Ku Kubur Mayat Anakku Dengan Sarung


Kisah pilu cerita seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) aku dapatkan dari sebuah forum diskusi di internet. Kisah ini menggiring air mataku menetes. Sebagai seorang manusia, bapak dan juga orang tua, saya sungguh larut dalam melihat kisah susahnya seorang bapak ini dalam menyelamatkan nyawa sang buah hatinya karena kekurangan dan kemiskinan.

Kisahnya demikian:

Supriono tinggal disebuah gerobak usang dan kotor bersama 2 anaknya. Dalam kesehariannnya, dia hanya bisa mendorong gerobaknya berkeliling perkampungan / perumahan tuk mengais sampah dan plastik. Tak banyak yang bisa dia harapkan. Penghasilannya saja rata-rata hanya Rp 10.000,-. terkadang hanya dapat Rp. 6.000 per hari.

Hari itu si bungsu sudah empat hari terserang muntaber. Badannya lemah diatas gerobak terselimuti kardus dan plastik. Usaha pengobatan pun sudah dilakukan. Meski hanya Rp. 4000 saja biaya pengobatan di puskesmas, Supriono tak mampu tuk menutupinya. Hingga akhirnya si kecil Khaerunisa (3 thn) mengejang dalam pangkuannya hingga menghembuskan nafas terakhir.

Saat itu juga, Supriono berlari menggendong anaknya melalui pinggiran rel KRL menuju stasiun. Dia ingin menguburkan putrinya di Bogor (kampung asal Supriono). Di perjalanan, dia diturunkan di stasiun Tebet karena terlihat mendekap mayat. Dia dibawa polisi ke pos stasiun untuk di interogasi. Supriono meyakinkan beberapa petugas bahwa memang mayat ini adalah anaknya yang meninggal karena sakit.

Usahanya tidak berhasil. Dikhawatirkan karena tindak kejahatan pembunuhan, Supriono digelandang ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Jakarta untuk menjalani otopsi pada mayat kecil yang dibawahnya.  Dia tertunduk lesu dengan keadaan yang serba pasrah. Lapar, haus dan sedih yang teramat sangat. Uang disaku hanya tertinggal Rp. 4000 saja. jangankan tuk beli makan, Beli air pun dia berfikir ulang.

Sore itu,  Supriono dinyatakan tidak bersalah. RSCM mengeluarkan Surat Keterangan hasil Otopsi yang menerangkan memang anaknya mati sakit. Dilepas begitu saja, Supriono hanya bisa membungkus mayat anaknya dengan kain sarung kumal yang dimilikinya. Tak ada uang tuk selembar kain kafan. Dengan sedikit uang dan air mineral pemberian pedagang di RSCM tadi, Dia berjalan menuju Bogor. Di jalan, kepala anaknya dibiarkan terbuka supaya tak tampak kalau dia telah mati. Tak ada yang menolongnya, bahkan tak ada yang menawarinya Ambulan. Ya….Allah….

Inikah potret bangsa ini sekarang?, Dimana budaya timurmu?. Tepo Sliro, gotong-royong, toleransi dan tetek bengek lainnya. Sekilas banyak sekali kasus yang seperti ini terjadi di negaraku ini. Bencana-bencana melanda. Korban berjatuhan. Mayat-mayat terkapar dan membusuk. Rumah-rumah hancur tak tersisa. Tapi disudut lainnya, kita tetap tertawa, berpesta dan seperti tak tahu apa-apa.

Patut kita merenung atas peristiwa terkuburnya 32 pekerja tambang di Chili. Seluruh warga negara berkabung. Bahkan sang Presiden turut aktif langsung terjun dilapangan selama 6 bulan evakuasi. Seluruh stasiun televisi menyiarkan perkembangan tahap demi tahap setiap saat. Meski dengan biaya yang sangat mahal, 32 warganya dapat terselamatkan.

Inilah potret sebuah negara yang sangat bisa melindungi warganya. Menjamin keselamatan dan kehidupan. Saling simpati dan empati satu dan lainnya. Toleransi tinggi dan rasa sosial saling mencintai dan memiliki ditunjukkan dengan ihlas.

Y Allah… bagaimana dengan bangsaku. inikah rupa bangsaku. Sudah miskin, renta, biadab, parah,.  Sombongnya minta ampun. Kita telah bukan Indonesia lagi. Kita ini sekumpulan warga yang tak punya negara dan dasar pijakan kehidupan. Antah Berantah. Ngawur sajalah dalam menjalankan hidup. Semoga masih bisa bangsa ini terselamatkan.

By: Widy

One response to this post.

  1. Posted by guru on 27 Oktober 2010 at 11:28

    ini mimpi buruk bagi kita semua. bangsa ini tidak akan pernah bisa peduli antar sesamanya. apa kemiskinan yang membentuk mereka menjadi insan-insan yang rakus dan serakah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: