Harakiri Ala Mbah Maridjan


 

Mbah Marijan

Meletusnya Merapi minggu kemarin telah membawa korban spesial. Sang Kuncen (juru kunci) Merapi Mas Penewu Surakso Hargo (Maridjan) meninggal dalam keadaan sujud di sekitar rumahnya di dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Jogjakarta. Kematiannya sontak menjadi berita nasional. Sosoknya selama ini memang dikenal publik sejak peristiwa letupan Merapi pada tahun 2006. Mbah Marijan menjadi satu-satunya warga Kinahrejo yang bersikukuh tidak mau dievakuasi dengan alasan harus menjaga Merapi. 

Kontroversi Kematiannya.

Beberapa forum diskusi banyak menjulukinya demikian:

  • Ksatria tidak akan meninggalkan medan laga.
  • Nahkoda karam bersama kapalnya.
  • Inilah jiwa pemimpin sejati yang amanah kepada titah/kepercayaan rakyatnya”.

Sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyokarto dengan gelar Raden Ngabei Surakso Hargo, Mbah Maridjan dititah oleh Sultan Hamengkubuwono IX sebagai penjaga Merapi (numerapi). Perintah ini bukan perintah biasa bagi seorang abdi dalem. Kepatuhan dan tunduknya abdi dalem kepada Sultan merupakan sebuah pengabdian yang luhur dan bermartabat bgai mereka. Mereka akan dengan senang hati dan ihlas mengemban setiap titah tugas meski mereka hanya digaji sangat murah (diluar nalar manusia).

Keteguhan Mbah Maridjan untuk tetap tidak mau meninggalkan dusunnya adalah bukti dari tanggung jawab sang Kuncen terhadap titah sultannya. Meski maut yang akan menjemput, meski kesengsaraan yang menemani, Mbah Maridjan tetap dengan pendiriannya.

Kita tidak pernah tahu tugas Kuncen yang sesungguhnya. Menjaga keselamatan warga atau terus-menerus menunggunya meski meledak sekalipun. Dalam nalar logika, seharusnya Mbah Maridjan turut turun ke pengungsian bersama seluruh warga. Merapi yang sedang erupsi, memuntahkan seluruh isi perutnya, membahayakan warga sekitar dan dirinya. Evakuasi yang dilakukan petugas sudah tepat., dan semua penduduk sudah dievakuasi. Berarti sudah tidak ada beban tugas lagi bagi Mbah Maridjan dilereng Merapi.

Dzolim, Bunuh Diri atau Ksatria

Dzolim = menyakiti, menyiksa, membuat susah diri sendiri/orang lain. Mbah Maridjan sadar dan tahu kalau Merapi terlalu tangguh bagi tubuh rentanya. Sedikit saja awan panas bisa membunuh dirinya. Tapi kukuhnya dia untuk tidak meninggalkan Merapi secara logika merupakan sebuah kedzoliman terhadap diri sendiri.

Bunuh Diri = Tindakannya yang tidak mau berusaha menghindari bahaya yang jelas-jelas akan mengancamnya adalah sebuah tindakan yang dikategorikan bunuh diri.

Ksatria = sikap jiwa yang patriot dan penuh tanggung jawab. Seorang pemimpin akan menjadi yang terakhir selamat. Begitulah seorang ksatria dalam peperangan, atau nahkoda dalam kapalnya yang karam.

Misteri hati Mbah Marijan

Dari ulasan analisa yang saya buat, tentunya hanya Mbah Marijan yang tahu kenapa mesti tetap melawan abu panas Merapi. Haruskah tugas sebagai Kuncen Merapi sanggup mati dalam ledakannya?.

Semoga Allah, swt menempatkan Mbah disisinya. Amin!

By: Widy

 

 

 

 

2 responses to this post.

  1. Harakiri.. betul juga ya.. apa bedanya dengan itu..

    Balas

    • makasih dah mampir gan. Hanya tuhan yang bisa menentukan. Mbah memiliki pendirian dan pemikiran yang tak bisa diterima oleh khalayak kebanyakan.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: