Sebuah Cerita Dari Kuala Lumpur (1)


 

lengang

Malam itu aku dihubungi oleh sebuah nomer tak dikenal. Setelah aku angkat, suara disana adalah seorang lelaki yang mengaku bernama Andan yang ingin bertemu saya untuk sekedar saling tahu secara langsung (kopi darat). Sosok Andan aku kenal melalui akun Facebook sejak 6 bulan silam. Selama ini jalinan komunikasi hanya sebatas saling komen di status masing-masing. Andan adalah orang Indonesia yang sejak tahun 1989 telah merantau ke negeri Jiran Malaysia yang kebetulan malam itu lagi pulang kampong.

Sebuah warung warteg pinggir jalan menjadi tempat yang disepakati tuk pertemuan kali pertama ini. Sosoknya ngga asing banget, sama persis seperti di foto profilnya. Lama saling basa-basi membuka obrolan, akhirnya aku manfaatkan pertemuan ini sebagai bahan belajar mengenal kota Kuala Lumpur lebih jauh. Kota yang sudah hampir 20 tahun lebih ditinggali olehnya. Dibawah ini adalah beberapa kesimpulan yang bisa aku bandingkan keadaan disana dengan banyak hal di Indonesia:

Kemacetan
Kuala Lumpur adalah kota yang tidak begitu luas. Sama halnya dengan Jakarta yang sangat padat dan sibuk sebagai kota utama sebuah negara. Problematika Jakarta akhir-akhir ini adalah kemacetan yang tak ada solusi. Bagaimana dengan di Kuala Lumpur?

Kuala Lumpur adalah kota yang tidak mempunyai problematika kemacetan parah seperti di Jakarta. Hal ini dikarenakan hampir seluruh pergerakan warga Kuala Lumpur di fasilitasi oleh pemerintah Diraja Malaysia dengan angkutan publik yang sangat nyaman dan super murah.
Ada banyak pilihan alat transportasi yang akan mengantar anda ke semua sudut Kuala Lumpur hanya dengan membayar Rp. 2000 saja. Harga ini adalah harga tiket yang bisa anda gunakan dalam satu hari saja. Kondektur Bis, Kereta, dan Trem hanya melihat tanggal tiket anda. Jadi anda tidak perlu membayar lagi meski anda berganti-ganti Bis atau kereta. cukup dua ribu sehari untuk transportasi.
Sungguh sebuah Ironi jika kita membandingkan keadaan ini dengan jakarta. Berapa banyak biaya yang ditanggung warga miskin kota yang harus naik-turun berpindah Bis. Itupun dengan Bis yang sungguh jauh dari dibilang layak. Kotor, berasap, dan panas tanpa AC huff……

Mobil Pribadi dan Sepeda Motor
Warga Kuala Lumpur rata-rata memiliki 2 sampai 3 mobil pribadi dirumahnya. Tapi mereka jarang sekali menggunakannya untuk aktivitas kerja. Alat transportasi umum lebih dipilih karena sangat cepat, murah dan nyaman. sehingga problem kemacetan tidak terjadi dijalan-jalan utama Kuala Lumpur. Sedangkan sepeda motor bukan alat transportasi favorit, mereka malas naik motor karena sangat berbahaya dan rawan luka-luka.

Sungguh sebuah perhatian yang sangat ekstra yang diberikan negara Diraja Malaysia tuk warganya di Kuala Lumpur. Miskin dan Kaya bercampur dalam satu alat transportasi tanpa terlihat perbedaan mencolok. Semua warganya di fasilitasi dengan kenyamanan super wah. Baik miskin atau kaya mampu dan sanggup membayar tiket harga yang hanya dipatok Rp. 2000 saja seharian.
Bersambung.

By : widy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: