Sanksi FIFA dan KoruPSSI


PSSITidak berselang lama setelah Indonesia dikenai hukuman (banned) oleh FIFA, lembaga superior ini akhirnya di obrak-abrik FBI. Beberapa pejabat penting FIFA ditangkap sehari sebelum kongres FIFA di gelar di Swiss atas tuduhan korupsi. Mata dunia tersentak dengan apa yang terjadi, termasuk juga gonjang-ganjingnya seputar FIFA-Banned dan PSSI.

Sanksi yang diterima Indonesia tentunya merupakan pukulan telak bagi dinasti La Nyalla Mataliti, Nirwan Bakrie dan Joko Driyono. Rezim yang dijuluki sebagai rezim KoruPSSI ini telah mengangkangi PSSI hampir selama 20 tahun. PSSI seolah telah menjadi sebuah organisasi keluarga tanpa tersentuh hukum negara dan transparansi.

Sebelum Rezim ini berkuasa, prestasi sepakbola Indonesia sungguhlah hebat. Prestasi yang terukir adalah juara Sea Games tahun 1991. Sedangkan rezim yang sekarang ini, prestasinya hanya Juara Piala Kemerdekaan tahun 2009 itu pun karena lawannya saat itu mengundurkan diri di final.

Lebih miris lagi, di Rezim sekarang inilah Indonesia pernah tercoreng muka karena sepakbola “Gajah”. Peristiwa ini telah meruntuhkan nama besar Indonesia sebagai negara yang selalu menjunjung sportifitas dan fair play dikancah Internasional. Sepakbola Gajah juga menghancurkan nama Azwar Anas sebagai ketum PSSI kala itu hingga beliau mundur dari tampuk pimpinan Ketum PSSI. Ada Mursyid Effendi di sisi pemain yang harus menanggung malu pada negara dan seluruh rakyat Indonesia karena telah melakukan aksi cetak gol ke gawang sendiri demi menghindari kemenangan.

Tidak hanya sepakbola Gajah di rezim KoruPSSI dan manipulaPSSI ini, muncul juga istilah “tali rafia tali sepatu” sesama mafia harus saling membantu. Istilah ini sungguh amat dahsyat menghancurkan sepakbola Indonesia selama ini. Semua serba diatur dan di skenario. Menurut catatan media, Tali Rafia Tali Sepatu ini mengatur siapa klub yang akan juara disetiap musimnya dan juga mengatur hukuman bagi klub yang tidak mau diatur. Apalagi saat hampir semua klub di danai menggunakan dana APBD saat itu. Uang negara menjadi bancaan karena nilai kontrak yang dilaporkan tidak pernah sama dengan yang diterima pemain.

Tahun 2005, seluruh klub mendapat jatah 20 Miliar dana APBD untuk pengelolaan klub. Untuk 20 klub kasta tertinggi saja berarti membutuhkan 400 Miliar dana APBD. kebijakan ini berlangsung sampai tahun 2010. Total 2.4 Triliun uang rakyat habis buat bancakan. Sebagian besar pengurus klub adalah walikota atau bupati, sehingga dana APBD sangat mudah dicairkan demi kepentingan politik dan lain-lain.

Sepakbola sungguh sangat berbau politik di negeri ini. Ribuan suporter yang sangat fanatik adalah lahan bagi para politikus mengeruk suara dan memuluskan langkahnya menjadi penguasa daerah. Dana selisih kontrak pemain dijadikan sebagai dana kampanye.

Selama 5 tahun kepemimpinan Johar, hampir seluruh rakyat Indonesia dibuat kesal dengan prestasi TimNas. Hampir semua kompetisi internasional yang diikuti tidak menghasilkan prestasi yang membanggakan. Bahkan rangking FIFA Indonesia terus turun tajam hingga berada di bawah negara-negara yang kultur sepakbolanya tidak kuat. Timor Leste, Myanmar, Fillipina, Brunei dan Kamboja telah mampu sejajar dengan kita.

Semua benci dengan PSSI saat itu. Banyak yang menginginkan orang-orang dinasti Rezim KoruPSSI ini hengkang. Kini Menpora telah membekukan kepengurusan PSSI demi memutus kekuasaan rezim ini terhadap PSSI. pro kontra pun datang. ada yang menyalahkan keputusan menpora dan ada juga yang mendukung menpora.

secara pribadi, aku mendukung sikap menpora. apapun yang beliau lakukan, selama demi perbaikan PSSI, sepakbola Indonesia dan transparansi PSSI aku sepenuhnya mendukung meski FIFA harus memberi sanksi bagi negeri ini.

-Abi Hasantoso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: