Hindari Doktrin Bersaing Pada Anak


selama ini banyak dari kita menuntut diri sendiri, anak atau adik kita untuk terus menciptakan persaingan dan kompetisi menjadi yang lebih baik di sekolah, di tempat bermain, di tempat kerja atau di mana saja. selama ini juga kita meyakini bahwa bersaing dan berlomba menjadi yang terbaik akan menciptakan individu yang baik dan terus melaju sendirian daripada yang lain. Seakan kesuksesan akan kita raih ketika kita menjaga rasa bersaing dengan orang lain.

Setelah aku fikir ulang, melihat fenomena dan data beberapa negara yang sukses dalam hal pendidikan dan kehidupan malah menerapkan sistem kerja berkelompok dan bekerjasama antar lainnya. Sehingga mereka terbiasa hidup saling topang, saling bantu, saling mendorong demi tercapainya tujuan bersama. Nilai humanitis sebagai manusia tercipta indah saling bergandeng tangan tanpa ada rasa ingin menjatuhkan satu sama lainnya.

Persaingan yang kita pupuk selama inilah yang menyebabkan kita menemukan jurang pembeda yang sangat tajam. antara yang kaya dan miskin, anatara yang pintar dan bodoh, antara yang cantik dan yang jelek, antara yang kuat dan yang lemah. Semua menjadi menganga lebar dan mengakibatkan tidak saling akur dan saling menjatuhkan.

Di Sekolah

Banyak siswa saling mengejek dan saling menjatuhkan diantara sesama pelajar demi hal yang kita sebut persaingan. Mereka terbiasa bekerja sendiri dan ingin memperoleh nilai yang terbaik sendirian. Jika tercapai, mereka akan merasa bangga dan sombong sekaligus merendahkan dan membodohkan yang lain.

Bagi yang merasa kalah, mereka akan mengupayakan segala macam cara untuk bisa menyaingi teman yang lain. Tindakan-tindakan yang dilakukan terkadang berupa hal yang tidak baik seperti ngerpek, mencontoh, curang atau hal; lainnya.

Di Tempat Kerja

Bukan rahasia umum jika di tempat kerja banyak kita temui saling sikut, saling menjatuhkan, saling fitnah dan saling bunuh demi sebuah pujian dari atasan. Muncul individu-individu dengan sifat penjilat yang terus mencoba menjatuhkan rekan kerja demi tujuan tertentu. Sungguh sangat merugikan tentunya bagi kinerja perusahaan jika karyawannya hanya berorientasi seperti ini.

Semua contoh diatas merupakan salah satu hasil dari penerapan doktrin salah yang terjadi dalam sistem hidup kita. mari ajak diri kita dan anak kita untuk selalu mengutamakan kerjasama, berkelompok dan berkarya bersama supaya tidak memunculkan sinisme-sinisme negatif dalam menjalani hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: