Karyaku


cerpen


Batu Nisan di Lereng Merapi

lereng merapi

Pagi yang sangat gusar, cemas dan membuatku tak nyaman. Kusandarkan tubuh ini dikursi teras samping rumah. Mataku menatap kosong pada hamparan rumput disekitar kolam ikan. Ditemani kopi pahit dan koran pagiku, kubaca kabar pagi hari ini dengan lesu dan kurang gairah. Sementara sinar mentari pagi kubiarkan menerpa tubuh ini.
Mimpi-mimpi itu sangat menggangguku. Sudah tiga hari ini aku ternampak sebuah tempat yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Tempat yang telah mencatat perjalanan hidupku yang penuh dengan misteri cerita di kala muda. Ku gapai gagang muk yang berisi kopi dan kuminum dengan berat kentalnya kopi buatan putriku Tantri sembari terus merayapkan pikiran jauh disana.
Kuberanjak masuk ke kamar. Kuarahkan mata ini ke sebuah kardus berukuran kecil yang agak berdebu diatas lemari baju. Kubuka isinya yang telah lama sekali tak kusentuh. Beberapa file lama yang telah menguning tertumpuk rapi. Kubaca satu-persatu sambil terus mengingat masa-masa saat dulu. Sepotong koran kliping yang sudah sangat usang kutarik dari himpitan tumpukan file. Kulihat sekilas gambar berita yang sudah mulai redup dan menguning. Kabar tentang wabah penyakit aneh yang menular dan mematikan di lereng Merapi.
Kurebahkan badanku diranjang sembari menatap kosong langit-langit kamar. Sementara jemariku menggenggam erat kliping koran itu. Terdengar pintu kamar diketuk pelan dari luar. “ pa…papa…” suara Tantri putriku terdengar di balik pintu. “masuk saja sayang”. Perintahku dari dalam kamar. Tantri membuka pintu dan memasuki kamar. “papa kenapa?… sakit?…. kok malas sekali tampaknya papa ini”. “hmmm tidak sayang.. papa hanya sedikit resah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran papa akhir-akhir ini”. Jawabku.
Kusuruh Tantri duduk disampingku, kubiarkan dia menerawang lembaran-lembaran kertas dan kardus disekitar ranjang. “berantakan sekali kamar papa”, tanyanya. Dengan menghela nafas panjang, kuambil posisi duduk disebelah putriku diranjang. “setelah papa renungkan, sepertinya sudah saatnya kau mengetahui semuanya”. Dengan suara berat aku mengatakan ini pada putriku. “mengetahui apa pa?” tanya Tantri padaku. “kuliahmu kan libur. Mau kan papa ajak Tantri kesebuah tempat.” Tantri mengernyitkan jidatnya. “tempat apa pa. ajak Tantri liburan ya?” manjanya putriku kegirangan memelukku
Aku ceritakan tentang mimpi yang terus datangi disetiap tidur malamku. Dan Tantri berusaha mengerti teka-teki ini, namun bersedia mendampingiku untuk pergi ke kota Jogja.
Kami berangkat ke Jogja keesokan harinya. Kota ini mengundangku hadir kembali disana melalui mimpi-mimpiku belakangan ini. Pagi-pagi sekali kutinggalkan rumah menuju Bandara Juanda Surabaya. Sepanjang perjalanan, ada banyak yang ditanyakan Tantri mengenai tujuanku mengajaknya ke kota gudeg ini. Namun semua itu selalu aku balas dengan senyum kecut penuh keresahan.
Pesawat citylink membawa kami terbang pukul 7.20 wib menuju bandara Adi sujipto Jogjakarta. Didalam pesawat, aku hanya memejamkan mata yang disertai pikiran kalut kemana-mana. Dua puluh tahun silam adalah masa dimana aku pernah punya cerita pilu dilereng Merapi. Dan hari ini, aku kembali kesana dengan berbagai tanya dan gelisa akan gambaran mimpi yang membayangiku selama ini.
Setengah jam kemudian kami telah mendarat di Adi Sujipto Jogjakarta. Perjalanan panjang menuju lereng gunung Merapi kami tempuh dengan menggunakan mobil penumpang umum (MPU). Aku berharap ada seorang warga yang masih bisa kukenal didusun bernama Wonogriyo. Dusun yang sangat terpencil dan primitif saat aku berada disana kala itu. Entah sekarang sudah seperti apa keadaannya. Setelah empat jam meninggalkan pusat kota Jogja dengan menggunakan mobil penumpang umum (MPU), sampailah kami disebuah Pasar Desa Wonodoro. Desa ini adalah desa paling ujung dilereng Merapi. Dari desa ini kami hanya bisa melanjutkan dengan menggunakan ojek menuju dusun Wonogriyo. Dulu dusun ini hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik cikar yang ditarik sapi.
Memasuki tapal batas Wonogriyo, aku meminta berhenti pada pak Ojek. Aku turun dan menghirup udara siang itu dengan panjang. Kurasakan bulu kudukku berdiri bersamaan dengan hembus angin siang yang terasa dingin menerpa kulit. Tantri hanya tersenyum dari atas motor yang memboncengnya melihat ulahku itu. Perjalanan berlanjut menuju Wonogriyo. Nampak terasa asing semua lika-liku jalan yang aku lewati, sudah sangat berubah keadaan desa ini setelah kejadian malam mencekam dua puluh tahun lalu itu.
Motor yang membawaku berhenti tepat didepan SD Wonogriyo yang sudah berdiri dengan bangunan semi bata. Aku turun dari motor dengan senyum bahagia mengenang masa-masa saat aku berada di SD ini kala itu.
“Tantri, di sekolah inilah dulu papa memulai pekerjaan menjadi guru, dan dirumah diatas gundukan itulah dulu papa pernah tinggal,” sedikit kubuka cerita pada putriku yang terus menatap sekelilingnya. “jadi papa pernah tinggal didusun ini?”. Sambil tersenyum pada Tantri, aku berjalan menuju ke sebuah rumah mungil disebelah gedung sekolah. “assalamualaikum…. Permisi” seorang lelaki setengah baya beserta perempuan seusianya dengan bayi kecil yang digendon muncul dari balik pintu. “waalaikum salam, siapa ya, bisa saya bantu pak?.”
aku menceritakan siapa aku sesungguhnya kepada mereka, dan tiba-tiba lelaki ini dengan kencang memelukku erat sambil mengguncang-guncangkan badanku.
“lho.. mas Towo toh ini, mas Hartowo kan” dengan tertawa lebar diberitahukanlah siapa aku pada istrinya. “saya ini Herman mas, Herman yang selalu menangis kalau dimarahi mas Towo, saya anaknya Kasun Sariman mas.. inget toh… ingat tidak mas sama bapak saya?”. Langsung kudekap erat lelaki yang bernama Herman ini. Dia masih berusia delapan tahun saat aku tinggalkan dulu.
Tak terasa air mata ini meleleh. “Herman…Herman ya ..ya aku ingat Her” pelukku erat. “ini anakku Her… Tantri”. Bersalaman keduanya. “wah udah punya anak gadis ya Mas”. Aku mengangguk tak kuasa bicara sambil memandangi bangunan rumah yang tak banyak berubah.
Sore pun menyapa kami yang masih terus bersenda gurau diteras rumah. “nanti nginapnya disini saja mas, saya siapkan kamar depan untuk mas dan dik Tantri”. “terima kasih Her, aku akan merasakan kembali tidur dirumah kenangan ini. bagian-bagian rumah ini masih utuh, seperti saat saya tinggali dulu.” Memoriku berkata saat mata ini terus melihat ke sebuah jendela teras. Jendela ini pernah dipecah kacanya oleh penduduk kampung ini.
Kabut dingin Merapi merayap turun, menyapa permukaan desa yang mulai gelap. Situasi seperti ini telah lama sekali tidak aku rasakan lagi semenjak meninggalkan dusun ini. Kulihat iring-iringan obor melewati jalan setapak didepan rumahnya Herman. “Her..herman, mau kemana para warga itu?” tanyaku. Herman tersentak seperti orang sulit bicara dan terlihat gugup mendengar pertanyaanku. Sepertinya ada sesuatu yang sulit dia ucapkan. “kamu kenapa Her.. kok kebingungan begitu”. Sergahku. “anu mas.. mereka itu mau kerumah mbah Jumali” jawabnya ragu. “kang Jumali maksudmu?, dukun urat yang pernah mengobati tanganmu yang patah dulu itu?” tanyaku.
“iya mas”. Jawabnya pendek membuatku penasaran. “oh jadi kang Jumali masih panjang umur, Alhamdulilah, kalau begitu besuk kamu antar mas ke rumah kang Jumali ya Her” pintaku. Tapi tiba-tiba istrinya Herman muncul dari ruang belakang. Sambil membawa nampan nasi takir. “tidak usah besuk mengantar mas Towo kang, sekarang saja mas Towo diajak berangkat sama-sama kerumah kang Jumali sekalian mengantar nasi takir”. Katanya.
Istri herman memandangku. “dirumah kang Jumali kan ada selamatan mas, kang Herman dan semua warga kesana mengantar nasi takir untuk kenduri” jelasnya. Aku melihat Herman semakin nampak bingung. “boleh kalau begitu. Tapi aku lihat kamu gusar sekali Her, ada apa toh sebenarnya kamu ini?” tanyaku.
“begini saja mas, biar nasi takir ini saya titipkan warga, ntar saya antar mas Towo ke mbah Jumali setelah acara kenduri” cegahnya. Bergegas Herman mengambil nasi takir ditangan istrinya dan berjalan menuju jalan depan rumahnya untuk menitipkan nasi takirnya kepada warga.
Aku dan Tantri nampak bingung melihat Herman. Kudekati Tantri dan kuajak keluar ruang tamu. Disebuah dipan bambu dibawah pohon jambu samping SD, Tantri kuajak berbicara. Dengan ditemani remang lampu rembulan kudekap puteriku yang sedari tadi diam tidak mengerti mengenai tujuanku didusun ini. “Tantri, papa tahu kalau dikepala kamu sekarang ini dipenuhi buuanyakk sekali pertanyaan, ya toh?” tanyaku dengan nada canda. “benar pa. Tantri tidak mengerti pa, semua kejadian yang Tantri alami sejak berangkat dari rumah, disini, dan semua ini membuat Tantri bingung”. Kudekap putriku sambil menahan nafas panjang.
“begini sayang, beberapa hari belakangan ini, dusun ini hadir dimimpi papa. Selama tiga hari berturut-turut mimpi papa hanya tempat ini, seperti ada kekuatan yang seolah menyuruh papa kembali dan datang ketempat ini. Dan disinilah nanti papa akan menceritakan perjalanan misteri kehidupan papamu.” Masih dengan diam, kucium lembut putriku sambil menikmati malam yang dingin nan sepi.
Malam semakin larut. Kenduri di rumah kang Jumali nampaknya sudah usai. Para warga sudah kembali kerumah masing-masing. Herman mengajak kami berangkat kerumah kang Jumali, Herman memandu kami dengan diterangi lampu obor menelusuri gelap malam berkabut yang dingin dan suara jangkrik yang berderik disepanjang jalan setapak dusun. Tepat disebuah rumah diperengan tanah agak tinggi dan dipenuhi pohon bambu, kami pun berhenti. “nuwun mbah… assalamualakum” Herman memanggil sang penghuni rumah. Dari dalam muncul kakek tua yang sangat masih nampak bugar. aku sangat ingat wajah dan rupanya. Dialah kang Jumali si dukun pijat urat. “waalaikum salam… kamu toh Her” sapa kang Jumali. “ inggih mbah, saya Herman” jawab Herman. Kami pun memasuki ruang teras yang beralas karpet tipis dan duduk berlesehan.
Hatiku sangat berdebar tidak karuan. Kang Jumali adalah orang yang begitu pernah dekat denganku saat disini dulu. “ini siapa toh” tanyanya saat kujabat tangan kang Jumali erat. Mata tuanya sudah sangat rabun melihatku diremang cahaya lampu minyak tanah. “saya Towo kang…Hartowo… yang dulu tinggal dirumah kasun Sariman’” jelasku padanya. “Subhanallah le…adikku yang hilang.. sini wo sini wo” mintanya padaku supaya duduk didekatnya. Diciumi seluruh kepalaku oleh kang Jumali. Dengan posisi duduk, dia terus berusaha memelukkan semua tangannya di badanku. Aku dengar rintih tangisnya ditelingaku. Semakin kudekapkan erat pelukku ke tubuhnya yang sudah renta. “alhamdulillah wo.. engkau masih panjang umur dik.” Rintihnya.
Malam itu kami larut dalam kesedihan setelah sekian lama saling tidak tahu kabar. Perbincangan panjang yang penuh emosional pun tertumpah malam itu. Tak lupa aku bercerita tentang keluargaku termasuk memperkenalkan putri semata wayangku Tantri dan juga kisah istriku yang telah meninggal terserang kanker. Kang Jumali adalah orang yang begitu dekat dan tahu kehidupanku saat kami masih bersama-sama di desa ini. Dan dia sudah aku anggap sebagai pamanku sendiri.
“kedatanganmu terlambat wo” kata kang Jumali. “malam ini aku menggelar kenduri tujuh hari meninggalnya Lailah” kata kang Jumali.
“Lailah siapa toh kang” tanyaku.
“Lailah itu ya mbakmu, yang selama ini kau panggil mbak Lala”. Badanku terjingkat dari dudukku. Tantri yang sedari tadi terus menguap sontak kaget melihat reaksiku mendengar nama itu disebut kang Jumali. Herman pun tak sanggup menatapku. “Laode Ida toh kang… iyo kang” tekanku pada kang Jumali. Ku toleh Herman yang terus menunduk.
“sekiranya kau datang seminggu yang lalu, mungkin masih ada kesempatan bertemu mbak mu. Dan aku mewakili sesepuh dan orang tua angkatnya didusun ini wo, telah menganggap Lailah sebagai orang yang berjasa dalam merubah dusun ini. Seluruh warga dusun menghormatinya. Lepas dari kejadian memilukan dua puluh tahun lalu saat kau disini”.
Mendengar semua penjelasan itu aku merasa seperti tertampar sesuatu yang keras. Aku menangis didepan kang Jumali. “jadi mbak Lala malam itu selamat kang?” tanyaku. Kang Jumali meneruskan ceritanya. “dua hari sebelum kejadian itu, Lailah mendatangiku, dengan frustasi dia mencurahkan semua usahanya yang gagal menangani serangan wabah misterius yang mematikan itu. Dan dia berjanji akan terus berusaha hingga semua warga bisa diselamatkan. Lailah mengajakku supaya aku membantunya. Tapi apa yang aku bisa?, aku bukan dokter, tabib atau apa lah. Aku jelaskan bahwa aku hanya seorang tukang pijat.? Sedangkan dia terus menerus dituduh warga sebagai biang dari bencana itu. Dan kau tahu sendiri bagaimana kejadian malam itu. Dia disuir warga dengan semena-mena. Dia terusir dan berjalan jauh menuruni bukit sendirian. Tertatih-tatih tanpa tahu arah dengan tekad mencari bantuan untuk dusunnya. Dan seminggu setelah kejadian malam itu, dia datang kembali bersama rombongan dari dinas kesehatan kota yang melakukan pembasmian pada virus mematikan itu.” tutup kang Jumali.
Aku mendekat dan tunduk didepan kang Jumali. “maafkan aku kang. aku merasa ingkar.” Sesalku.
Aku menoleh ke putriku Tantri yang sedari tadi duduk bersandar didinding bambu. Aku merasa inilah saat yang tepat Tantri mengetahui cerita tempat ini.
“ seperti yang pernah papa katakan Tantri, kiranya inilah saatnya papa bercerita dan memberitahumu tentang tempat ini dan hubungannya sama papamu”. Aku mengambil duduk di samping kang Jumali dan memulai cerita tentang kejadian dua puluh tahun silam.
“Hidup didusun kecil adalah sesuatu yang tak pernah papa impikan dan bayangkan. Saat itu papa adalah seorang PNS guru yang ditugaskan ke dusun ini. Disini baru ada satu sekolah negeri yang terisi hanya 36 murid dari kelas satu sampai kelas enam. Itupun tidak setiap hari mereka bisa hadir kesekolah. Pertama berdinas, terasa sangat berat pengabdian ini. Namun demi tugas sebagai seorang guru, papa memulainya dengan sabar. Bersama tiga rekan guru lainnya, kami berusaha maksimal merubah pandangan warga tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Menemukan bangku yang kosong dipagi hari adalah hal biasa. Papa harus berjalan mencari siswa-siswa papa yang sibuk membantu orang tua mereka berkebun sayuran. Lambatnya gaji dari Kecamatan hingga berbulan-bulan juga sering kami rasakan disini. Namun semuanya papa lakukan dengan ihlas demi dusun ini.
Bersamaan dengan papa, ada satu orang PNS kesehatan yang dikirim ke dusun ini, yaitu saudari Laode Ida. Laode adalah seorang PNS yang lari dari daerahnya di Sulawesi karena perang lokal. Dia menuju Jawa hanya membawa surat-surat berharga. Seluruh keluarganya telah tiada akibat pembantaian perang etnis. Laode menjadi teman senasib papa yang diabdikan didusun ini. Kami mengisi hari-hari dengan tugas masing-masing. Tempat tinggal yang berdekatan membuat kami sering saling bertemu dan bercanda ria bersama.
Papa telah menganggap Laode sebagai kakak sendiri. Usia kami yang memang terpaut dua belas tahun membuat Laode terlihat dewasa dan pengayom setidaknya itu sering dia lakukan pada papa. Papa biasa memanggilnya mbak Lala. Begitu juga sebaliknya, mbak Lala telah menganggap papa seperti adiknya sendiri dan memanggil papa dik Towo. Hari-hari kami tak selalu manis. Segala macam problem sering saling kami curhatkan. Dalam bertugas sebagai bidan, mbak Lala dituntut memberi penyuluhan tentang kesehatan kehamilan kepada warga. Dan tak sedikit warga yang menolak mbak Lala dengan tidak sopan, dibentak, diusir, dicaci dan dilempari. Karena warga masih mempercayai persalinan ke dukun bayi.
Kami diabdikan disebuah dusun yang warganya memang masih sangat terbelakang. Dukun adalah dokter mereka. Mereka tidak mengenal dokter apalagi bidan. Papa sering membantu meyakinkan dan menguatkan tekad mbak Lala supaya terus memberi yang terbaik bagi dusun ini tanpa frustasi. Keputusasaan, ketakutan dan kekalutan terkadang datang menghantui ketika warga sudah bertindak melampaui batas dalam menghakiminya. Lemparan telur busuk di atap rumah, tumpukan tahi sapi dan kambing diteras rumah dan juga terkadang mereka menganggap keberadaan mbak Lala sebagai binatang najis yang perlu di cemooh saat melewati depan rumah mereka. Ditambah hasutan para dukun kepada warga yang terus membuat keberadaan bidan selalu dimusuhi.
Pak Sariman adalah Kepala Dusun yang banyak membantu mbak Lala dalam menghadapi hasutan-hasutan ini. Sebagai Kepala Dusun, beliau sering turun dan berbincang sama warga akan peran kami didusun ini. Fungsi bidan dan guru untuk dusun ini juga disampaikan dengan halus kepada warga.
Pernah suatu hari seorang lelaki mendatangi kami diteras rumah. Dia membawa golok dan juga obor api. Datang dengan wajah murka dan berteriak lantang. “bidan..bidan… kau bisa pilih dari apa yang kupegang ini. Kugolok lehermu atau kubakar tubuhmu?” teriaknya.
Papa yang kebetulan berada diteras bersama mbak Lala saling pandang mendengar teriakan itu. Kulihat wajah mbak Lala sangat pucat. Papa mencoba menenangkannya. “tenang mbak…sabar ya. Saya akan coba bicara sama lelaki itu”. Papa berjalan ke halaman rumah dan mendekati pria itu.
“sabar kang.. sabar.. tenang. ada apa sebenarnya?. Kita bicara baik-baik ya” bujuk papa kala itu. Pria ini mengarahkan pandangannya pada papa dengan beringas.
“pak guru tidak usah ikut-ikutan masalah ini. Bidan sial itu yang harus bertanggung jawab” teriaknya.
Papa menoleh ke teras rumah. Nampak mbak Lala ketakutan. Papa bujuk lelaki ini lagi.
“iya sabar kang. Tidak usah bermain golok. Ini mengenai tanggung jawab apa ya kang?” tanya papa padanya.
Lelaki itu semakin berteriak lantang dengan mengacungkan goloknya.
“hei bidan. kemari kau. Anakku sekarat diranjangnya. Istriku tidak mau kuantar ke mbok Marjo, katanya kau melarangnya. Mau anakku mati ya?” teriaknya.
Mendengar ucapan lelaki ini, kulihat mbak Lala nampak memasuki rumah dan segera keluar membawa tas kerjanya. Dia bergegas berlari meninggalkan kami. Melihat mbak Lala pergi, lelaki itu pun semakin lantang berteriak. “hei..hei bidan mau lari kemana kamu, mati kamu sekarang hiyyaat”. papa berusaha menghadang dan menenangkannya.
“hups…kang..kang…sabar…sabar. mari kita ikuti bu bidan”. Saranku.
Kami mengikuti kemana mbak Lala pergi. Jalanan setapak yang sempit dan berliku tak membuat mbak Lala memperlambat jalannya. Papa percepat juga langkah kaki ini menyusulnya. Disebuah rumah gubuk kecil yang sederhana, kulihat mbak Lala masuk. Dari balik jendela kulihat mbak Lala sedang memeriksa seorang anak kecil yang terlentang, kurus diatas ranjang kayu. Lelaki yang tadi marah-marah tiba-tiba muncul dibelakangku. Dia berdiri dan melihat apa yang dilakukan mbak Lala. “mau kau apakan anakku”. Bentaknya dari jendela. Ternyata pria ini adalah sang pemilik rumah. Istrinya keluar sambil menangis dan mencoba merampas golok dan api ditangan suaminya. “sudahlah kang… anak kita kang.. “. Sambil diambilnya golok ditangan suaminya.
Nampak mbak Lala keluar dari rumah dan menarikku ke halaman rumah. Dia mendekatkan mulutnya ditelinga papa. “gawat dik. Penyakit ini semakin-hari semakin menular dan mengancam. Kekhawatiranku jangan-jangan akan terwujud.” bisiknya. Papa bingung mendengar bisikan mbak Lala itu.
“Apa maksud mbak Lala?. khawatir opo toh mbak, dan memangnya sakitnya anak itu apa?.” Tanya papa.
“ini penyakit menular dik, ganas sekali, semacam penyakit herpes yang menyerang kulit dan mengakibatkan kulit melepuh dan bernana. Virusnya bisa menyebar hanya dalam hitungan menit dik.” Terangnya.
Papa sontak dan terkejut mendengar penjelasan mbak Lala. Kami memandang suami istri yang masih berdiri didekat jendela dengan perasaan pilu.
“trus bagaimana mbak.” Tanyaku.
Belum sempat dijawab, mbak Lala pergi menuju sepasang suami istri itu. Papa turut dibelakangnya. Mbak Lala mencoba menjelaskan kondisi anak mereka.
“maaf pak, bukan saya melarang istri bapak pergi ke mbok Marjo. Tapi sakitnya anak bapak ini tidak mampu disembuhkan oleh dukun” Jelasnya.
Tidak terima perkataan mbak Lala, sang suami berteriak menentang.
“eh..bidan, memangnya kau bisa apa?.mbok Marjo itu dukun anak yang sakti didusun ini. Dia yang menolong dan menyembuhkan warga sini dari semua penyakitnya. Eh..kamu malah meremehkannya.” tentang sang suami.
“bukan begitu maksud saya pak” jawab mbak Lala yang terlihat lebih berani daripada tadi saat diteras rumahnya.
“sakitnya anak bapak ini termasuk penyakit yang masih aneh, saya belum bisa pastikan namanya apa, menularnya akan sangat cepat jika air lepuhan dikulitnya meletus.” Jelasnya pada si suami.
“ah.. itu berarti kamu saja yang tidak mampu bidan. Kalau memang merasa tidak mampu, kenapa melarang warga pergi ke mbok Marjo? kamu maunya apa?”. Di dorong mbak Lala hingga terjerembab ditanah.
Suami istri ini bergegas membawa anaknya ke rumah mbok Marjo. Kami hanya bisa melihat kepergian mereka dari depan halaman rumahnya. Lalu kami pun melangkah pulang. Diperjalanan, papa bertanya kembali mengenai dampak dan efek terburuk penyebaran penyakit ini pada mbak Lala.
“sedahsyat apa sih mbak virus ini?” tanya papa.
“aku beberapa hari ini memikirkan itu dik. Sudah banyak warga yang terjangkit dalam dua hari terakhir”. Jawabnya.
“trus apa yang bisa kita lakukan mbak?” tanya papa. Tanpa menjawab mbak Lala menambah laju jalannya. Papa terus menguntit dibelakangnya.
Inilah kisah awal mengerikan dua puluh tahun silam itu. Anak penderita penyakit itu akhirnya meninggal dunia dirumah dukun mbok Marjo dengan kulit gosong melepuh dan bernanah. Sang dukun menganggap ini semua ulah bidan Laode. Dan tersebarlah berita ini ke seluruh warga dusun. Sedangkan penyakit ini semakin hari terus menerus berkembang dan menulari hampir sebagian warga. Usaha yang terus diintensifkan menangani wabah ini percuma hasilnya. Penolakan warga terhadap mbak Lala menjadi semakin memburukkan situasi. Papa tahu betul bagaimana sikap ketidakpercayaan warga pada mbak Lala, karena papa juga ikut membantu turun tangan. Semua penyuluhannya dibalas lemparan tahi kambing. Kedatangannya kerumah-rumah warga diterima dengan makian dan umpatan serta usiran yang kasar. Dusun menjadi mencekam. Kematian warga hampir terjadi tiap hari. Virus itu terus menjadi hantu yang mematikan. Rumah para dukun menjadi penuh sesak warga. Mereka semua frustasi menghadapi wabah ini. Ritual-ritual upacara sesembahan pun dilakukan dilereng Merapi. Hasilnya masih belum ada tanda-tanda kesembuhan pada warga.
Malam tragis itupun datang. Saat itu kami bertiga, papa, mbak Lala dan kasun Samiran berbincang diruang tamu rumah pak kasun. Mbak Lala mengeluhkan keadaan dirinya yang terus menerus dimusuhi warga.
“aku ini sudah sebatang kara. Di Sulawesi aku telah sengsara. Pelarianku ini kuharap menjadikan hidupku lebih panjang. Aku berjanji akan mengabdikan diriku dan ilmuku pada daerah yang menerimaku untuk hidup tenang. Dan didusun Wonogriyo inilah harapan hidupku kembali ada. Tugas pengabdianku disini. Dan aku ingin seluruh cerita hidupku akan mati dan terkubur disini.Tapi kini semuanya menjadi kelabu. Semua warga membenciku. Bahkan aku dianggap sebagai biang semua ini. Aku ini apa?. Dusun ini sekarang meradang dan aku tak bisa menolongnya”.
Dengan sesenggukan mbak Lala mencurahkan semuanya malam itu pada kami. Papa terus memberikan semangat padanya.
“mbak, ini semua bukan kesalahan mbak. mbak sudah berusaha kuat memberikan yang terbaik untuk dusun ini. Kita perlu sabar merubah pemikiran warga mbak” timpalku menguatkan hatinya.
Kasun Samiran juga memberikan semangatnya. “dusun ini tetap memerlukan sampean bu bidan. Keadaan ini memang sangat mengerikan. Saya dan perangkat desa lainnya akan mencari bantuan ke desa-desa dibawah sana.” Kata pak kasun.
Kami pun saling diam diruang tamu untuk beberapa lama. Tak ada satu kata keluar dari mulut kami bertiga. Suasana sepi malam yang dingin seolah menambah mencekamnya suasana malam itu.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara ramai para warga dusun yang berbondong-bondong mengarah kerumah kami. Sinar obor para warga menerangi halaman rumah. Salah satu perwakilan mereka berteriak lantang.
“hei bidan.. keluaaar”. Papa dan kasun Samiran bergegas berdiri menuju teras rumah. “ada apa ini bapak-bapak” kata kasun Samiran menengahi.
“kami ingin bidan itu pak kasun. Suruh dia keluar atau kami akan menyeretnya”. Suasana semakin gaduh, papa melangkah masuk rumah menemui mbak Lala yang ketakutan sendirian.
“warga marah dan mencari mbak” jelasku padanya.
Mbak Lala memegang pundak papa. “dik.. apapun yang terjadi ini adalah rumahku, dusunku dan harapanku. Kalaupun aku mati, disinilah, didusun inilah batu nisanku. Berjanjilah untuk saya dik, dedikasikan semua yang dik towo bisa untuk dusun ini, meski itu tanpa saya” katanya.
Menetes air mata papa menatap wajah mbak Lala yang sudah lembab menangis.
“iya mbak…iya mbak aku janji.” Mbak Lala memeluk papa dan bergegas keluar.
Diteras rumah, kami bertiga berhadapan dengan warga. Mbak Lala angkat bicara diantara teriakan para warga.
“bapak-bapak semua, Saya hanya bisa memberitahukan bahwa penyakit ini adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Kita harus segera turun gunung meninggalkan dusun untuk sementara waktu. Dusun kita telah diserang penyakit yang menular.” Belum selesai mbak Lala bicara, salah satu warga sudah memotongnya dan berteriak
“kau yang harus pergi dari dusun ini, bukan kami. Usir dia …usir dia” teriaknya.
Seketika itu semua warga maju menyerang, menarik dan menyeret mbak Lala. Papa dan kasun Samiran menghadang kekuatan begitu banyak orang.
“janji dik..janji dik..perrgilah..pergilah” itulah teriakan mbak Lala sebelum akhirnya papa pingsan terinjak-injak warga.
Pagi harinya Papa baru siuman. Masih tergeletak diteras rumah, papa berusaha menggapai kursi panjang diteras itu. Tak tampak seorangpun disana. Lengang, sunyi dan sepi. Sisa-sisa berantakan masih tampak dihalaman rumah. Dengan tubuh yang lemah papa mencari orang disekitar rumah yang bisa ditanya tentang kejadian semalam. Dimana mbak Lala dan kasun Samiran?.
Baru saja kubalikkan badan ini dengan maksud mau memasuki rumah, terdengar teriakan dari jalan depan rumah.
“pak guru..pak guru”. papa menoleh kearah panggilan itu. Papa lihat kang Jumali dan keluarganya menaiki cikar sapi melambai memanggilku. Dengan langkah tertatih papa berjalan menuju mereka. Kang Jumali turun dan membopongku ke cikarnya. Dinaikkan papa dibagian belakang bersama anak dan istrinya.
“kita mau kemana kang?” tanya papa pada kang Jumali yang duduk didepan mengendalikan kemudi cikar.
“kita harus segera meninggalkan dusun ini dik towo untuk mencari pertolongan. Wabah ini sudah sangat menakutkan. Para warga berkumpul dirumah mbok Marjo untuk ritual ke lereng Merapi sekarang.” Pantas sepi sekali pagi ini pikirku.
“apa yang terjadi semalam kang? Mbak Lala dan kasun Samiran dimana?” tanyaku. “aku sudah mendengar tentang kejadian semalam dik, makanya aku lewati rumahmu pagi ini. aku percaya omongan bu bidan Laode yang mengatakan bahwa ini penyakit yang disebabkan virus. Bukan yang seperti warga pikirkan. Keluargaku semua aku bawa serta. Mereka akan aku tinggalkan sementara pada saudaranya di desa bawah sana. Dan aku akan minta bantuan pengobatan untuk mengatasi wabah ini.” Jelasnya.
Papa merasa goncangan cikar menambah rasa linu diseluruh badan.
“kamu jangan banyak gerak dulu dik, nanti badanmu tak periksa dihutan sana” Jelasnya.
Matahari terus merangkak naik. Cikar kang Jumali dengan pelan terus menyisir sisi bukit yang bergelombang. Semakin jauh kami meninggalkan dusun Wonogriyo. Capek dan lebam membuat papa terlelap ditumpukan barang-barang kang Jumali. Menjelang sore hari, kang Jumali berhenti dan membangunkan papa dari tidur.
“kita berhenti istirahat dulu dik. Kulihat lukamu tidak begitu parah. Kita makan saja dulu ya, dari pagi belum makan kan?”. Dengan lemah papa turun dari cikar. Papa lihat disekitar hanya pohon-pohon hutan yang besar kokoh berdiri. Rimbunan daunnya membuat suasana tampak gelap.
“ini sudah sampai mana kang?, masih jauhkah desa terdekat?”. Tanyaku.
Kang Jumali tersenyum sambil menjawab ringan. “kira-kira dini hari nanti kita bisa menjangkau desa Wonodoro. Itu desa terdekat. Tapi jalan kesana sulit ditempuh, semoga kita bisa sampai tanpa halangan apapun”.
Matahari terus merambat turun. Malam pun tiba. Suara-suara binatang malam mulai mengisi suasana disekitar kami. Kabut dingin Merapi merayap menyelimuti seluruh lereng. Diterangi dua buah obor, cikar kang Jumali bergerak pelan menuruni jalan yang menurun dan berbatu. Suasana sepi mencekam menemani perjalanan kami.
Setelah sekian lama perjalanan, sampailah kami disebuah sungai besar yang membelah Jogjakarta. Rombongan kami harus melewati jembatan kecil yang terlihat rapuh untuk melintasi sungai yang lebar dan berarus deras. Betul kata kang Jumali. Jalur ini memang sulit dilewati. Tampak didepan kami seekor harimau hutan yang sedang meraung-raung dimulut jembatan. Kami berhenti untuk mengatur strategi melewati binatang buas ini. Dengan pelan kang Jumali menjalankan cikarnya lewat depan sang Harimau. Keadaan sangat mengerikan. Istri dan anak-anak kang Jumali saling ketakutan, begitupun papa. Papa siaga dan waspada melindungi mereka dari posisi belakang cikar dengan sebatang kayu penyangga roda cikar.
Sedikit demi sedikit cikar bisa melewati sang harimau. Rombongan kami dengan perlahan bisa memasuki mulut jembatan. Tiba-tiba sang harimau meloncat kearah kami, sontak papa melakukan perlawanan. Dengan tubuh yang masih lemah, berbagai upaya papa lakukan untuk mengusir hewan ini hingga. Upaya itu akhirnya menjatuh papa bersama sang harimau dari cikar dan terjun kesungai.
Itulah saat terakhir papa dan kang Jumali. Papa hanyut terbawa arus sungai yang terus membawa papa mengikuti panjangnya sungai. Dimalam yang sangat dingin itu, papa berjuang terus menyelamatkan jiwa dan nyawa dari terjangan air sungai. Ketakutan membuat papa kuat untuk terus berlari menyelamatkan diri saat berhasil menepi dari badan sungai.
Berjalan tanpa arah dan entah kemana kaki melangkah. Hingga papa menemukan sebuah Desa yang terletak jauh dari lereng Merapi.. Di desa inilah papa ditolong warga dan dapat bertahan hidup. Dirumah seorang Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan UPT Pendidikan, papa sementara tinggal untuk pemulihan. Dari jasa beliaulah, papa dipindahtugaskan dari tempat yang lama setelah beliau mendengar cerita perjalanan papa yang berat disana. Dan dirumah beliaulah papa membaca berita di koran lokal tentang wabah aneh dilereng Merapi. Berita itu papa gunting, dan papa simpan di kardus yang kau lihat dikamar papa itu.
Kesempatan pindah itu papa terima tanpa pertimbangan lagi. Trauma kejadian akan kehidupan sebelumnya membuat papa segera memutuskan menerima tawaran pindah ke Jawa Timur hingga sekarang ini.
Inilah kisah hidup papamu didusun sini. Bukan papa yang harus kau resapi dalam kisah itu, tapi papa ingin kau meresapi perjuangan dan tekad tangguh seorang perempuan yang kuat dan teguh menghadapi tugasnya. Dia adalah Laode Ida atau mbak Lala. Dia perempuan yang terus mengobarkan semangatnya untuk warga sekitarnya meski dengan cacian, peluh dan air mata. mereka tidak pernah menerima kebenarannya.” Tutupku.
Kang Jumali meremas pundakku. “alhamdulillah kita diberi keselamatan dan umur panjang dik Towo. Aku ihlas kehilangan Lailah. memang sudah lama dia menderita sakit. Tapi selama dia tinggal bersamaku, dia begitu kuat menyembunyikan keadaan kesehatannya. Tidak pernah mengeluh atau menyerah. Malah hari-harinya tak lepas dari tugasnya mengabdi untuk warga disini. Tanpa pernah menunjukkan kalau sebenarnya dia telah rapuh oleh kanker itu. Bahkan dengan telaten dia merawat bayi-bayi, memberi penyuluhan dan terkadang ikut bersama-sama warga dalam kegiatan didusun sini. Seolah-olah dia tidak sakit dik. Peranannya sangat diterima oleh warga sini. Kamu bisa lihat bagaimana perubahan dusun ini dibanding dua puluh tahun silam kan?.” Tegas kang Jumali
Di putarnya badanku menghadapnya. “Kami semua sekarang hidup sehat dan tenang. Bahkan kehamilan dan kelahiran disini sangat bermutu karena peranan Lailah. Dia sadarkan warga dengan ilmu-ilmu kebidanannya. Warga sudah menganggap dia sebagai berliannya dusun sini. Kasih sayangnya membuat warga merasa memiliki intan berlian didusunnya. Dia dicintai disini dik, disayang dan dihormati atas segala jasa-jasanya mengembalikan dusun ini seperti sekarang ini.” terang kang Jumali.
Aku melangkah keluar ruangan. Tak kuasa menahan perih dan sedihnya batin ini mendengar cerita kang Jumali. Kutatap malam yang kosong. Pikiranku hampa melayang tergulung kabut malam. Kang Jumali menghampiriku diteras luar.
“Lailah menepati janjinya dik Wo, dia tetap kembali ke dusun sini meski malam itu terusir oleh warga.” Bisiknya. Aku menoleh dan menatap kang Jumali.
“maafkan aku kang”. Kembali air mata ini menetes deras.
Dipeluk tubuhku oleh kang Jumali. Dengan tak kuasa lagi harus mengucap, aku sampaikan penyesalan mendalam atas keputusanku meninggalkan dusun Wonogriyo. “aku telah berjanji padanya untuk tetap berusaha yang terbaik bagi dusun ini kang. Tapi ternyata aku mengingkarinya” tangisku.
“ini mungkin sudah jalan Tuhan dik, pengabdianmu sudah yang terbaik bagi warga sini.“ kata kang Jumali.
“dimana kubur mbak Lala kang?, aku ingin kesana malam ini juga.” tanyaku pada kang Jumali.
segera kang Jumali memasuki rumah, dibawanya lampu senter baterei dan juga mengajak Herman yang sedari tadi duduk mendengarkan cerita kami.
“antarkan masmu kemakam bu Lailah” kata kang Jumali kepada Herman sambil menyerahkan lampu senternya.
“berangkatlah bersama Herman dik, makam Lailah berdampingan sama makam bapaknya Herman Kasun Samiran”. Lanjut kang Jumali.
Setelah menitipkan Tantri pada kang Jumali, malam itu juga aku berjalan dibelakang Herman menyusuri jalanan setapak disisi kiri rumah kang Jumali. Tidak begitu jauh kami pun sampai disebuah tempat disamping pekarangan bambu. Nampak tiga gundukan makam yang berjajar berdampingan. Satu makam masih basah penuh dengan bunga-bunga. Aku yakin inilah makam mbak Lala.
“ini makamnya ibu Lailah mas, sedangkan yang dua itu makam bapak dan ibu saya.” kata Herman memberitahuku.
“terima kasih Her. orang tuamu adalah orang tuaku juga. Merekalah yang membimbingku saat aku disini dulu.” Sambungku.
Aku segera bertekuk lutut disamping makam mbak Lala. Tak tahan air mata ini terus menetesi tanahnya yang masih basah.
“kamu kembali saja kerumah kang Jumali Her, biarkan mas disini sendirian.” Perintahku kepada Herman. Herman pun meninggalkan aku sendiri dalam gelap tanpa sinar apapun.
Kupegang nisan putih yang dipenuhi bunga melati. Kutumpahkan tangisku diatasnya. “maafkan aku mbak.. maafkan aku. Aku telah bersalah mbak. Aku telah ingkar. Tak seharusnya aku lari. Aku pengecut mbak. Aku pengecut”.
Semakin kutundukkan mukaku hingga menyentuh tanah makam yang wangi bertabur bunga.
“engkau tepati janjimu, dan engkau kembali kesini seperti teriakmu padaku malam itu. aku malu mbak.. aku malu.” Kudongakkan kepalaku, dan kutatap dua makam disebelahnya.
“maafkan aku pak Kasun. aku anakmu yang ingkar. Aku lari paakk”. Tangisku pecah di depan makam mereka. Pilu dan teriris rasanya hati ini. Dosa ini begitu besar aku rasakan. Aku pernah berjanji kepada mereka untuk tidak akan meninggalkan dusun ini. Mengabdi demi kemajuan dusun yang masih sangat primitif saat itu. Tapi hanya mereka inilah orang-orang yang tetap tegar dan kuat membangkitkan kehidupan dusun ini yang pernah hampir binasa oleh wabah. Aku hanya seonggok pecundang jalanan. Yang hina dan tak ada guna. Berlari seperti pencuri. Menangis seperti anak kecil yang mencari tetek ibunya. Apa aku ini?. Oh Tuhan, tempatkanlah mereka ini semua di Surgamu. Ampunilah segala salah dan dosanya. Mereka orang-orang yang baik. Mereka orang-orang yang pantas di sisi-Mu.
Hening malam lereng Merapi membawaku terlelap disamping makam. Tergugah aku ketika terik mentari pagi menyapa tubuh. Putriku Tantri telah berada disampingku bersama kang Jumali dan Herman.
“papa baik-baik saja kan?” tanya Tantri sambil memegang pundakku yang lusuh.
Aku pandu putriku berdiri.
“papa baik-baik saja sayang” jawabku. Kulihat wajah sumringah dari Kang Jumali dan Herman yang terus menatapku. Mendekat kang Jumali ke makam mbak Lala.
“Lailah telah tenang dialam sana dik Towo. Ihlaskan mbakmu disini. Aku dan Herman yang akan merawatnya.” Kata kang Jumali.
“terima kasih kang, masa-masaku bersama mereka juga akan aku sertakan terpendam disini. Mereka dan dusun ini telah mengisi masa mudaku meski akhirnya hanya mereka yang pantas terkubur disini.” Jawabku. Kupeluk tubuh kang Jumali yang telah renta.
“ini adalah cita-cita mbak Lala kang, ingin mengabdi disini hingga akhir hayatnya. Karena menurutnya tanah inilah harapan dia setelah masa pahitnya di Sulawesi. Dan dia berhasil menjadikan dusun ini sungguh luar biasa. Aku sangat ihlas dan bangga padanya”.
Dengan melepas pelukanku. Kang Jumali mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum mengusap wajahku penuh makna sayang.
“kebanggaanmu sekarang ada pada putrimu dik Towo. Dia gadis yang baik. Dia akan memberimu makna hidup yang lebih baik dari tempat ini. Bimbinglah dia dan berikan hikmah semua ini sebagai motivasi hidupnya”. Pesan kang Jumali.
Kami saling berpelukan lagi pagi itu didepan makam pahlawan dusun Wonogriyo.

-Selesai-

ditulis oleh: Widy. 21-6-2010

Batu Nisan di Lereng Merapi

Pagi yang sangat gusar, cemas dan membuatku tak nyaman. Kusandarkan tubuh ini dikursi teras samping rumah. Mataku menatap kosong pada hamparan rumput disekitar kolam ikan. Ditemani kopi pahit dan koran pagiku, kubaca kabar pagi hari ini dengan lesu dan kurang gairah. Sementara sinar mentari pagi kubiarkan menerpa tubuh ini.

Mimpi-mimpi itu sangat menggangguku. Sudah tiga hari ini aku ternampak sebuah tempat yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Tempat yang telah mencatat  perjalanan hidupku yang penuh dengan misteri cerita di kala muda. Ku gapai gagang muk yang berisi kopi dan kuminum dengan berat kentalnya kopi buatan putriku Tantri sembari terus merayapkan pikiran jauh disana.

Kuberanjak masuk ke kamar. Kuarahkan mata ini ke sebuah kardus berukuran kecil yang agak berdebu diatas lemari baju. Kubuka isinya yang telah lama sekali tak kusentuh. Beberapa file lama yang telah menguning tertumpuk rapi. Kubaca satu-persatu sambil terus mengingat masa-masa saat dulu. Sepotong koran kliping yang sudah sangat usang kutarik dari himpitan tumpukan file. Kulihat sekilas gambar berita yang sudah mulai redup dan menguning. Kabar tentang wabah penyakit aneh yang menular dan mematikan di lereng Merapi.

Kurebahkan badanku diranjang sembari menatap kosong langit-langit kamar. Sementara jemariku menggenggam erat kliping koran itu. Terdengar pintu kamar diketuk pelan dari luar. “ pa…papa…” suara Tantri putriku terdengar di balik pintu.  “masuk saja sayang”. Perintahku dari dalam kamar. Tantri membuka pintu dan memasuki kamar. “papa kenapa?… sakit?…. kok malas sekali tampaknya papa ini”. “hmmm tidak sayang.. papa hanya sedikit resah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran papa akhir-akhir ini”. Jawabku.

Kusuruh Tantri duduk disampingku, kubiarkan dia menerawang lembaran-lembaran kertas dan kardus disekitar ranjang. “berantakan sekali kamar papa”, tanyanya. Dengan menghela nafas panjang, kuambil posisi duduk disebelah putriku diranjang. “setelah papa renungkan, sepertinya sudah saatnya kau mengetahui semuanya”. Dengan suara berat aku mengatakan ini pada putriku. “mengetahui apa pa?” tanya Tantri padaku. “kuliahmu kan libur. Mau kan papa ajak Tantri kesebuah tempat.” Tantri mengernyitkan jidatnya. “tempat apa pa. ajak Tantri liburan ya?” manjanya putriku kegirangan memelukku

Aku ceritakan tentang mimpi yang terus datangi disetiap tidur malamku. Dan Tantri berusaha mengerti teka-teki ini, namun bersedia mendampingiku untuk pergi ke kota Jogja.

Kami berangkat ke Jogja keesokan harinya. Kota ini mengundangku hadir kembali disana melalui mimpi-mimpiku belakangan ini. Pagi-pagi sekali kutinggalkan rumah menuju Bandara Juanda Surabaya. Sepanjang perjalanan, ada banyak yang ditanyakan Tantri mengenai tujuanku mengajaknya ke kota gudeg ini. Namun semua itu selalu aku balas dengan senyum kecut penuh keresahan.

Pesawat citylink membawa kami terbang pukul 7.20 wib menuju bandara Adi sujipto Jogjakarta. Didalam pesawat, aku hanya memejamkan mata yang disertai pikiran kalut kemana-mana. Dua puluh tahun silam adalah masa dimana aku pernah punya cerita pilu dilereng Merapi. Dan hari ini, aku kembali kesana dengan berbagai tanya dan gelisa akan gambaran mimpi yang membayangiku selama ini.

Setengah jam kemudian kami telah mendarat di Adi Sujipto Jogjakarta. Perjalanan panjang menuju lereng gunung Merapi kami tempuh dengan menggunakan mobil penumpang umum (MPU). Aku berharap ada seorang warga yang masih bisa kukenal didusun bernama Wonogriyo. Dusun yang sangat terpencil dan primitif saat aku berada disana kala itu. Entah sekarang sudah seperti apa keadaannya. Setelah empat jam meninggalkan pusat kota Jogja dengan menggunakan mobil penumpang umum (MPU), sampailah kami disebuah Pasar Desa Wonodoro. Desa  ini adalah desa paling ujung dilereng Merapi. Dari desa ini kami hanya bisa melanjutkan dengan menggunakan ojek menuju dusun Wonogriyo. Dulu dusun ini hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik cikar yang ditarik sapi.

Memasuki tapal batas Wonogriyo, aku meminta berhenti pada pak Ojek. Aku turun dan menghirup udara siang itu dengan panjang. Kurasakan bulu kudukku berdiri bersamaan dengan hembus angin siang yang terasa dingin menerpa kulit. Tantri hanya tersenyum dari atas motor yang memboncengnya melihat ulahku itu. Perjalanan berlanjut menuju Wonogriyo. Nampak terasa asing semua lika-liku jalan yang aku lewati, sudah sangat berubah keadaan desa ini setelah kejadian malam mencekam dua puluh tahun lalu itu.

Motor yang membawaku berhenti tepat didepan SD Wonogriyo yang sudah berdiri dengan bangunan semi bata. Aku turun dari motor dengan senyum bahagia mengenang masa-masa saat aku berada di SD ini kala itu.

“Tantri, di sekolah inilah dulu papa memulai pekerjaan menjadi guru, dan dirumah diatas gundukan itulah dulu papa pernah tinggal,” sedikit kubuka cerita pada putriku yang terus menatap sekelilingnya. “jadi papa pernah tinggal didusun ini?”. Sambil tersenyum pada Tantri, aku berjalan menuju ke sebuah rumah mungil disebelah gedung sekolah. “assalamualaikum…. Permisi” seorang lelaki setengah baya beserta perempuan seusianya dengan bayi kecil yang digendon muncul dari balik pintu. “waalaikum salam, siapa ya, bisa saya bantu pak?.”

aku menceritakan siapa aku sesungguhnya kepada mereka, dan tiba-tiba lelaki ini dengan kencang memelukku erat sambil mengguncang-guncangkan badanku.

“lho.. mas Towo toh ini, mas Hartowo kan” dengan tertawa lebar diberitahukanlah siapa aku pada istrinya. “saya ini Herman mas, Herman yang selalu menangis kalau dimarahi mas Towo, saya anaknya Kasun Sariman mas.. inget toh… ingat tidak mas sama bapak saya?”. Langsung kudekap erat lelaki yang bernama Herman ini. Dia masih berusia delapan tahun saat aku tinggalkan dulu.

Tak terasa air mata ini meleleh. “Herman…Herman ya ..ya aku ingat Her” pelukku erat. “ini anakku Her… Tantri”. Bersalaman keduanya. “wah udah punya anak gadis ya Mas”. Aku mengangguk tak kuasa bicara sambil memandangi bangunan rumah yang tak banyak berubah.

Sore pun menyapa kami yang masih terus bersenda gurau diteras rumah. “nanti nginapnya disini saja mas, saya siapkan kamar depan untuk mas dan dik Tantri”. “terima kasih Her, aku akan merasakan kembali tidur dirumah kenangan ini. bagian-bagian rumah ini masih utuh, seperti saat saya tinggali dulu.” Memoriku berkata saat mata ini terus melihat ke sebuah jendela teras. Jendela ini pernah dipecah kacanya oleh penduduk kampung ini.

Kabut dingin Merapi merayap turun, menyapa permukaan desa yang mulai gelap. Situasi seperti ini telah lama sekali tidak aku rasakan lagi semenjak meninggalkan dusun ini. Kulihat iring-iringan obor melewati jalan setapak didepan rumahnya Herman. “Her..herman, mau kemana para warga itu?” tanyaku. Herman tersentak seperti orang sulit bicara dan terlihat gugup mendengar pertanyaanku. Sepertinya ada sesuatu yang sulit dia ucapkan. “kamu kenapa Her.. kok kebingungan begitu”. Sergahku. “anu mas.. mereka itu mau kerumah mbah Jumali” jawabnya ragu. “kang Jumali maksudmu?, dukun urat yang pernah mengobati tanganmu yang patah dulu itu?” tanyaku.

“iya mas”. Jawabnya pendek membuatku penasaran. “oh jadi kang Jumali masih panjang umur, Alhamdulilah, kalau begitu besuk kamu antar mas ke rumah kang Jumali ya Her” pintaku. Tapi tiba-tiba istrinya Herman muncul dari ruang belakang. Sambil membawa nampan nasi takir. “tidak usah besuk mengantar mas Towo kang, sekarang saja mas Towo diajak berangkat sama-sama kerumah kang Jumali sekalian mengantar nasi takir”. Katanya.

Istri herman memandangku. “dirumah kang Jumali kan ada selamatan mas, kang Herman dan semua warga kesana mengantar nasi takir untuk kenduri” jelasnya. Aku melihat Herman semakin nampak bingung. “boleh kalau begitu. Tapi aku lihat kamu gusar sekali Her, ada apa toh sebenarnya kamu ini?” tanyaku.

“begini saja mas, biar nasi takir ini saya titipkan warga, ntar saya antar mas Towo ke mbah Jumali setelah acara kenduri” cegahnya. Bergegas Herman mengambil nasi takir ditangan istrinya dan berjalan menuju jalan depan rumahnya untuk menitipkan nasi takirnya kepada warga.

Aku dan Tantri nampak bingung melihat Herman. Kudekati Tantri dan kuajak keluar ruang tamu. Disebuah dipan bambu dibawah pohon jambu samping SD, Tantri kuajak berbicara. Dengan ditemani remang lampu rembulan kudekap puteriku yang sedari tadi diam tidak mengerti mengenai tujuanku didusun ini. “Tantri, papa tahu kalau dikepala kamu sekarang ini dipenuhi buuanyakk sekali pertanyaan, ya toh?” tanyaku dengan nada canda. “benar pa. Tantri tidak mengerti pa, semua kejadian yang Tantri alami sejak berangkat dari rumah, disini, dan semua ini membuat Tantri bingung”. Kudekap putriku sambil menahan nafas panjang.

“begini sayang, beberapa hari belakangan ini, dusun ini hadir dimimpi papa. Selama tiga hari berturut-turut mimpi papa hanya tempat ini, seperti ada kekuatan yang seolah menyuruh papa kembali dan datang ketempat ini. Dan disinilah nanti papa akan menceritakan perjalanan misteri kehidupan papamu.” Masih dengan diam, kucium lembut putriku sambil menikmati malam yang dingin nan sepi.

Malam semakin larut. Kenduri di rumah kang Jumali nampaknya sudah usai. Para warga sudah kembali kerumah masing-masing. Herman mengajak kami  berangkat kerumah kang Jumali, Herman memandu kami dengan diterangi lampu obor menelusuri gelap malam berkabut yang dingin dan suara jangkrik yang berderik disepanjang jalan setapak dusun. Tepat disebuah rumah diperengan tanah agak tinggi dan dipenuhi pohon bambu, kami pun berhenti. “nuwun mbah… assalamualakum” Herman memanggil sang penghuni rumah. Dari dalam muncul kakek tua yang sangat masih nampak bugar. aku sangat ingat wajah dan rupanya. Dialah kang Jumali si dukun pijat urat. “waalaikum salam… kamu toh Her” sapa kang Jumali. “ inggih mbah, saya Herman” jawab Herman. Kami pun memasuki ruang teras yang beralas karpet tipis dan duduk berlesehan.

Hatiku sangat berdebar tidak karuan. Kang Jumali adalah orang yang begitu pernah dekat denganku saat disini dulu. “ini siapa toh” tanyanya saat kujabat tangan kang Jumali erat. Mata tuanya sudah sangat rabun melihatku diremang cahaya lampu minyak tanah. “saya Towo kang…Hartowo… yang dulu tinggal dirumah kasun Sariman’” jelasku padanya. “Subhanallah le…adikku yang hilang.. sini wo sini wo” mintanya padaku supaya duduk didekatnya. Diciumi seluruh kepalaku oleh kang Jumali. Dengan posisi duduk, dia terus berusaha memelukkan semua tangannya di badanku. Aku dengar rintih tangisnya ditelingaku. Semakin kudekapkan erat pelukku ke tubuhnya yang sudah renta. “alhamdulillah wo.. engkau masih panjang umur dik.” Rintihnya.

Malam itu kami larut dalam kesedihan setelah sekian lama saling tidak tahu kabar. Perbincangan panjang yang penuh emosional pun tertumpah malam itu. Tak lupa aku bercerita tentang keluargaku termasuk memperkenalkan putri semata wayangku Tantri dan juga kisah istriku yang telah meninggal terserang kanker. Kang Jumali adalah orang yang begitu dekat dan tahu kehidupanku saat kami masih bersama-sama di desa ini. Dan dia sudah aku anggap sebagai pamanku sendiri.

“kedatanganmu terlambat wo” kata kang Jumali. “malam ini aku menggelar kenduri tujuh hari meninggalnya Lailah” kata kang Jumali.

“Lailah siapa toh kang” tanyaku.

“Lailah itu ya mbakmu, yang selama ini kau panggil mbak Lala”. Badanku terjingkat dari dudukku. Tantri yang sedari tadi terus menguap sontak kaget melihat reaksiku mendengar nama itu disebut kang Jumali. Herman pun tak sanggup menatapku. “Laode Ida toh kang… iyo kang” tekanku pada kang Jumali. Ku toleh Herman yang terus menunduk.

“sekiranya kau datang seminggu yang lalu, mungkin masih ada kesempatan bertemu mbak mu. Dan aku mewakili sesepuh dan orang tua angkatnya didusun ini wo, telah menganggap Lailah sebagai orang yang berjasa dalam merubah dusun ini. Seluruh warga dusun menghormatinya. Lepas dari kejadian memilukan dua puluh tahun lalu saat kau disini”.

Mendengar semua penjelasan itu aku merasa seperti tertampar sesuatu yang keras. Aku menangis didepan kang Jumali. “jadi mbak Lala malam itu selamat kang?” tanyaku. Kang Jumali meneruskan ceritanya. “dua hari sebelum kejadian itu, Lailah mendatangiku, dengan frustasi dia mencurahkan semua usahanya yang gagal menangani serangan wabah misterius yang mematikan itu. Dan dia berjanji akan terus berusaha hingga semua warga bisa diselamatkan. Lailah mengajakku supaya aku membantunya. Tapi apa yang aku bisa?, aku bukan dokter, tabib atau apa lah. Aku jelaskan bahwa aku hanya seorang tukang pijat.? Sedangkan dia terus menerus dituduh warga sebagai biang dari bencana itu. Dan kau tahu sendiri bagaimana kejadian malam itu. Dia disuir warga dengan semena-mena. Dia terusir dan berjalan jauh menuruni bukit sendirian. Tertatih-tatih tanpa tahu arah dengan tekad mencari bantuan untuk dusunnya. Dan seminggu setelah kejadian malam itu, dia datang kembali bersama rombongan dari dinas kesehatan kota yang melakukan pembasmian pada virus mematikan itu.” tutup kang Jumali.

Aku mendekat dan tunduk didepan kang Jumali. “maafkan aku kang. aku merasa ingkar.” Sesalku.

Aku menoleh ke putriku Tantri yang sedari tadi duduk bersandar didinding bambu. Aku merasa inilah saat yang tepat Tantri mengetahui cerita tempat ini.

“ seperti yang pernah papa katakan Tantri, kiranya inilah saatnya papa bercerita dan memberitahumu tentang tempat ini dan hubungannya sama papamu”. Aku mengambil duduk di samping kang Jumali dan memulai cerita tentang kejadian dua puluh tahun silam.

“Hidup didusun kecil adalah sesuatu yang tak pernah papa impikan dan bayangkan. Saat itu papa adalah seorang PNS guru yang ditugaskan ke dusun ini. Disini baru ada satu sekolah negeri yang terisi hanya 36 murid dari kelas satu sampai kelas enam. Itupun tidak setiap hari mereka bisa hadir kesekolah. Pertama berdinas, terasa sangat berat pengabdian ini. Namun demi tugas sebagai seorang guru, papa memulainya dengan sabar. Bersama tiga rekan guru lainnya, kami berusaha maksimal merubah pandangan warga tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Menemukan bangku yang kosong dipagi hari adalah hal biasa. Papa harus berjalan mencari siswa-siswa papa yang sibuk membantu orang tua mereka berkebun sayuran. Lambatnya gaji dari Kecamatan hingga berbulan-bulan juga sering kami rasakan  disini. Namun semuanya papa lakukan dengan ihlas demi dusun ini.

Bersamaan dengan papa, ada satu orang PNS kesehatan yang dikirim ke dusun ini, yaitu saudari Laode Ida. Laode adalah seorang PNS yang lari dari daerahnya di Sulawesi karena perang lokal. Dia menuju Jawa hanya membawa surat-surat berharga. Seluruh keluarganya telah tiada akibat pembantaian perang etnis. Laode menjadi teman senasib papa yang diabdikan didusun ini. Kami mengisi hari-hari dengan tugas masing-masing. Tempat tinggal yang berdekatan membuat kami sering saling bertemu dan bercanda ria bersama.

Papa telah menganggap Laode sebagai kakak sendiri. Usia kami yang memang terpaut dua belas tahun membuat Laode terlihat dewasa dan pengayom setidaknya itu sering dia lakukan pada papa. Papa biasa memanggilnya mbak Lala. Begitu juga sebaliknya, mbak Lala telah menganggap papa seperti adiknya sendiri dan memanggil papa dik Towo. Hari-hari kami tak selalu manis. Segala macam problem sering saling kami curhatkan. Dalam bertugas sebagai bidan, mbak Lala dituntut memberi penyuluhan tentang kesehatan kehamilan kepada warga. Dan tak sedikit warga yang menolak mbak Lala dengan tidak sopan, dibentak, diusir, dicaci dan dilempari. Karena warga masih mempercayai persalinan ke dukun bayi.

Kami diabdikan disebuah dusun yang warganya memang masih sangat terbelakang. Dukun adalah dokter mereka. Mereka tidak mengenal dokter apalagi bidan. Papa sering membantu meyakinkan dan menguatkan tekad mbak Lala supaya terus memberi yang terbaik bagi dusun ini tanpa frustasi. Keputusasaan, ketakutan dan kekalutan terkadang datang menghantui ketika warga sudah bertindak melampaui batas dalam menghakiminya. Lemparan telur busuk di atap rumah, tumpukan tahi sapi dan kambing diteras rumah dan juga terkadang mereka menganggap keberadaan mbak Lala sebagai binatang najis yang perlu di cemooh saat melewati depan rumah mereka. Ditambah hasutan para dukun kepada warga yang terus membuat keberadaan bidan selalu dimusuhi.

Pak Sariman adalah Kepala Dusun yang banyak membantu mbak Lala dalam menghadapi hasutan-hasutan ini. Sebagai Kepala Dusun, beliau sering turun dan berbincang sama warga akan peran kami didusun ini. Fungsi bidan dan guru untuk dusun ini juga disampaikan dengan halus kepada warga.

Pernah suatu hari seorang lelaki mendatangi kami diteras rumah. Dia membawa golok dan juga obor api. Datang dengan wajah murka dan berteriak lantang. “bidan..bidan… kau bisa pilih dari apa yang kupegang ini. Kugolok lehermu atau kubakar tubuhmu?”  teriaknya.

Papa yang kebetulan berada diteras bersama mbak Lala saling pandang mendengar teriakan itu. Kulihat wajah mbak Lala  sangat pucat. Papa mencoba menenangkannya. “tenang mbak…sabar ya. Saya akan coba bicara sama lelaki itu”. Papa berjalan ke halaman rumah dan mendekati pria itu.

“sabar kang.. sabar.. tenang. ada apa sebenarnya?. Kita bicara baik-baik ya” bujuk papa kala itu. Pria ini mengarahkan pandangannya pada papa dengan beringas.

“pak guru tidak usah ikut-ikutan masalah ini. Bidan sial itu yang harus bertanggung jawab” teriaknya.

Papa menoleh ke teras rumah. Nampak mbak Lala ketakutan. Papa bujuk lelaki ini lagi.

“iya sabar kang. Tidak usah bermain golok. Ini mengenai tanggung jawab apa ya kang?” tanya papa padanya.

Lelaki itu semakin berteriak lantang dengan mengacungkan goloknya.

“hei bidan. kemari kau. Anakku sekarat diranjangnya. Istriku tidak mau kuantar ke mbok Marjo, katanya kau melarangnya. Mau anakku mati ya?” teriaknya.

Mendengar ucapan lelaki ini, kulihat mbak Lala nampak memasuki rumah dan segera keluar membawa tas kerjanya. Dia bergegas berlari meninggalkan kami. Melihat mbak Lala pergi, lelaki itu pun semakin lantang berteriak. “hei..hei bidan mau lari kemana kamu, mati kamu sekarang hiyyaat”. papa berusaha menghadang dan menenangkannya.

“hups…kang..kang…sabar…sabar. mari kita ikuti bu bidan”. Saranku.

Kami mengikuti kemana mbak Lala pergi. Jalanan setapak yang sempit dan berliku tak membuat mbak Lala memperlambat jalannya. Papa percepat juga langkah kaki ini menyusulnya. Disebuah rumah gubuk kecil yang sederhana, kulihat mbak Lala masuk. Dari balik jendela kulihat mbak Lala sedang memeriksa seorang anak kecil yang terlentang, kurus diatas ranjang kayu. Lelaki yang tadi marah-marah tiba-tiba muncul dibelakangku. Dia berdiri dan melihat apa yang dilakukan mbak Lala. “mau kau apakan anakku”. Bentaknya dari jendela. Ternyata pria ini adalah sang pemilik rumah. Istrinya keluar sambil menangis dan mencoba merampas golok dan api ditangan suaminya. “sudahlah kang… anak kita kang.. “. Sambil diambilnya golok ditangan suaminya.

Nampak mbak Lala keluar dari rumah dan menarikku ke halaman rumah. Dia mendekatkan mulutnya ditelinga papa. “gawat dik. Penyakit ini semakin-hari semakin  menular dan mengancam. Kekhawatiranku jangan-jangan akan terwujud.” bisiknya. Papa bingung mendengar bisikan mbak Lala itu.

“Apa maksud mbak Lala?. khawatir opo toh mbak, dan memangnya sakitnya anak itu  apa?.” Tanya papa.

“ini penyakit menular dik, ganas sekali, semacam penyakit herpes yang menyerang kulit dan mengakibatkan kulit melepuh dan bernana. Virusnya bisa menyebar hanya dalam hitungan menit dik.” Terangnya.

Papa sontak dan terkejut mendengar penjelasan mbak Lala. Kami memandang suami istri yang masih berdiri didekat jendela dengan perasaan pilu.

“trus bagaimana mbak.” Tanyaku.

Belum sempat dijawab, mbak Lala pergi menuju sepasang suami istri itu. Papa turut dibelakangnya. Mbak Lala mencoba menjelaskan kondisi anak mereka.

“maaf pak, bukan saya melarang istri bapak pergi ke mbok Marjo. Tapi sakitnya anak bapak ini tidak mampu disembuhkan oleh dukun” Jelasnya.

Tidak terima perkataan mbak Lala, sang suami berteriak menentang.

“eh..bidan, memangnya kau bisa apa?.mbok Marjo itu dukun anak yang sakti didusun ini. Dia yang menolong dan menyembuhkan warga sini dari semua penyakitnya. Eh..kamu malah meremehkannya.” tentang sang suami.

“bukan begitu maksud saya pak” jawab mbak Lala yang terlihat lebih berani daripada tadi saat diteras rumahnya.

“sakitnya anak bapak ini termasuk penyakit yang masih aneh, saya belum bisa pastikan namanya apa, menularnya akan sangat cepat jika air lepuhan dikulitnya meletus.” Jelasnya pada si suami.

“ah.. itu berarti kamu saja yang tidak mampu bidan. Kalau memang merasa tidak mampu, kenapa melarang warga pergi ke mbok Marjo? kamu maunya apa?”. Di dorong mbak Lala hingga terjerembab ditanah.

Suami istri ini bergegas membawa anaknya ke rumah mbok Marjo. Kami hanya bisa melihat kepergian mereka dari depan halaman rumahnya. Lalu kami pun melangkah pulang. Diperjalanan, papa bertanya kembali mengenai dampak dan efek terburuk penyebaran penyakit ini pada mbak Lala.

“sedahsyat apa sih mbak virus ini?” tanya papa.

“aku beberapa hari ini memikirkan itu dik. Sudah banyak warga yang terjangkit dalam dua hari terakhir”. Jawabnya.

“trus apa yang bisa kita lakukan mbak?” tanya papa. Tanpa menjawab mbak Lala menambah laju jalannya. Papa terus menguntit dibelakangnya.

Inilah kisah awal mengerikan dua puluh tahun silam itu. Anak penderita penyakit itu akhirnya meninggal dunia dirumah dukun mbok Marjo dengan kulit gosong melepuh dan bernanah. Sang dukun menganggap ini semua ulah bidan Laode. Dan tersebarlah berita ini ke seluruh warga dusun. Sedangkan penyakit ini semakin hari terus menerus berkembang dan menulari hampir sebagian warga. Usaha yang terus diintensifkan menangani wabah ini percuma hasilnya. Penolakan warga terhadap mbak Lala menjadi semakin memburukkan situasi. Papa tahu betul bagaimana sikap  ketidakpercayaan warga pada mbak Lala, karena papa juga ikut membantu turun tangan. Semua penyuluhannya dibalas lemparan tahi kambing. Kedatangannya kerumah-rumah warga diterima dengan makian dan umpatan serta usiran yang kasar. Dusun menjadi mencekam. Kematian warga hampir terjadi tiap hari. Virus itu terus menjadi hantu yang mematikan. Rumah para dukun menjadi penuh sesak warga. Mereka semua frustasi menghadapi wabah ini. Ritual-ritual upacara sesembahan pun dilakukan dilereng Merapi. Hasilnya masih belum ada tanda-tanda kesembuhan pada warga.

Malam tragis itupun datang. Saat itu kami bertiga, papa, mbak Lala dan kasun Samiran berbincang diruang tamu rumah pak kasun. Mbak Lala mengeluhkan keadaan dirinya yang terus menerus dimusuhi warga.

“aku ini sudah sebatang kara. Di Sulawesi aku telah sengsara. Pelarianku ini kuharap menjadikan hidupku lebih panjang. Aku berjanji akan mengabdikan diriku dan ilmuku pada daerah yang menerimaku untuk hidup tenang. Dan didusun Wonogriyo inilah harapan hidupku kembali ada. Tugas pengabdianku disini. Dan aku ingin seluruh cerita hidupku akan mati dan terkubur disini.Tapi kini semuanya menjadi kelabu. Semua warga membenciku. Bahkan aku dianggap sebagai biang semua ini. Aku ini apa?. Dusun ini sekarang meradang dan aku tak bisa menolongnya”.

Dengan sesenggukan mbak Lala mencurahkan semuanya malam itu pada kami. Papa terus memberikan semangat padanya.

“mbak, ini semua bukan kesalahan mbak. mbak sudah berusaha kuat memberikan yang terbaik untuk dusun ini. Kita perlu sabar merubah pemikiran warga mbak” timpalku menguatkan hatinya.

Kasun Samiran juga memberikan semangatnya. “dusun ini tetap memerlukan sampean bu bidan. Keadaan ini memang sangat mengerikan. Saya dan perangkat desa lainnya akan mencari bantuan ke desa-desa dibawah sana.” Kata pak kasun.

Kami pun saling diam diruang tamu untuk beberapa lama. Tak ada satu kata keluar dari mulut kami bertiga. Suasana sepi malam yang dingin seolah menambah mencekamnya suasana malam itu.

Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara ramai para warga dusun yang berbondong-bondong mengarah kerumah kami. Sinar obor para warga menerangi halaman rumah. Salah satu perwakilan mereka berteriak lantang.

“hei bidan.. keluaaar”. Papa dan kasun Samiran bergegas berdiri menuju teras rumah. “ada apa ini bapak-bapak” kata kasun Samiran menengahi.

“kami ingin bidan itu pak kasun. Suruh dia keluar atau kami akan menyeretnya”. Suasana semakin gaduh, papa melangkah masuk rumah menemui mbak Lala yang ketakutan sendirian.

“warga marah dan mencari mbak” jelasku padanya.

Mbak Lala memegang pundak papa. “dik.. apapun yang terjadi ini adalah rumahku, dusunku dan harapanku. Kalaupun aku mati, disinilah, didusun inilah batu nisanku. Berjanjilah untuk saya dik, dedikasikan semua yang dik towo bisa untuk dusun ini, meski itu tanpa saya” katanya.

Menetes air mata papa menatap wajah mbak Lala yang sudah lembab menangis.

“iya mbak…iya mbak aku janji.” Mbak Lala memeluk papa dan bergegas keluar.

Diteras rumah, kami bertiga berhadapan dengan warga. Mbak Lala angkat bicara diantara teriakan para warga.

“bapak-bapak semua, Saya hanya bisa memberitahukan bahwa penyakit ini adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Kita harus segera turun gunung meninggalkan dusun untuk sementara waktu. Dusun kita telah diserang penyakit yang menular.” Belum selesai mbak Lala bicara, salah satu warga sudah memotongnya dan berteriak

“kau yang harus pergi dari dusun ini, bukan kami. Usir dia …usir dia” teriaknya.

Seketika itu semua warga maju menyerang, menarik dan menyeret mbak Lala. Papa dan kasun Samiran menghadang kekuatan begitu banyak orang.

“janji dik..janji dik..perrgilah..pergilah” itulah teriakan mbak Lala sebelum akhirnya papa pingsan terinjak-injak warga.

Pagi harinya Papa baru siuman. Masih tergeletak diteras rumah, papa berusaha menggapai kursi panjang diteras itu. Tak tampak seorangpun disana. Lengang, sunyi dan sepi. Sisa-sisa berantakan masih tampak dihalaman rumah. Dengan tubuh yang lemah papa mencari orang disekitar rumah yang bisa ditanya tentang kejadian semalam. Dimana mbak Lala dan kasun Samiran?.

Baru saja kubalikkan badan ini dengan maksud mau memasuki rumah,  terdengar teriakan dari jalan depan rumah.

“pak guru..pak guru”. papa menoleh kearah panggilan itu. Papa lihat kang Jumali dan keluarganya menaiki cikar sapi melambai memanggilku. Dengan langkah tertatih papa berjalan menuju mereka. Kang Jumali turun dan membopongku ke cikarnya. Dinaikkan papa dibagian belakang bersama anak dan istrinya.

“kita mau kemana kang?” tanya papa pada kang Jumali yang duduk didepan mengendalikan kemudi cikar.

“kita harus segera meninggalkan dusun ini dik towo untuk mencari pertolongan. Wabah ini sudah sangat menakutkan. Para warga berkumpul dirumah mbok Marjo untuk ritual ke lereng Merapi sekarang.” Pantas sepi sekali pagi ini pikirku.

“apa yang terjadi semalam kang? Mbak Lala dan kasun Samiran dimana?” tanyaku. “aku sudah mendengar tentang kejadian semalam dik, makanya aku lewati rumahmu pagi ini. aku percaya omongan bu bidan Laode yang mengatakan bahwa ini penyakit yang disebabkan virus. Bukan yang seperti warga pikirkan. Keluargaku semua aku bawa serta. Mereka akan aku tinggalkan sementara pada saudaranya di desa bawah sana. Dan aku akan minta bantuan pengobatan untuk mengatasi wabah ini.” Jelasnya.

Papa merasa goncangan cikar menambah rasa linu diseluruh badan.

“kamu jangan banyak gerak dulu dik, nanti badanmu tak periksa dihutan sana”  Jelasnya.

Matahari terus merangkak naik. Cikar kang Jumali dengan pelan terus menyisir sisi bukit yang bergelombang. Semakin jauh kami meninggalkan dusun Wonogriyo. Capek dan lebam membuat papa terlelap ditumpukan barang-barang kang Jumali. Menjelang sore hari, kang Jumali berhenti dan membangunkan papa dari tidur.

“kita berhenti istirahat dulu dik. Kulihat lukamu tidak begitu parah. Kita makan saja dulu ya, dari pagi belum makan kan?”. Dengan lemah papa turun dari cikar. Papa lihat disekitar hanya pohon-pohon hutan yang besar kokoh berdiri. Rimbunan daunnya membuat suasana tampak gelap.

“ini sudah sampai mana kang?, masih jauhkah desa terdekat?”. Tanyaku.

Kang Jumali tersenyum sambil menjawab ringan. “kira-kira dini hari nanti kita bisa menjangkau desa Wonodoro. Itu desa terdekat. Tapi jalan kesana sulit ditempuh, semoga kita bisa sampai tanpa halangan apapun”.

Matahari terus merambat turun. Malam pun tiba. Suara-suara binatang malam mulai mengisi suasana disekitar kami. Kabut dingin Merapi merayap menyelimuti seluruh lereng. Diterangi dua buah obor, cikar kang Jumali bergerak pelan menuruni jalan yang menurun dan berbatu. Suasana sepi mencekam menemani perjalanan kami.

Setelah sekian lama perjalanan, sampailah kami disebuah sungai besar yang membelah Jogjakarta. Rombongan kami harus melewati jembatan kecil yang terlihat rapuh untuk melintasi sungai yang lebar dan berarus deras. Betul kata kang Jumali. Jalur ini memang sulit dilewati. Tampak didepan kami seekor harimau hutan yang sedang meraung-raung dimulut jembatan. Kami berhenti untuk mengatur strategi melewati binatang buas ini. Dengan pelan kang Jumali menjalankan cikarnya lewat depan sang Harimau. Keadaan sangat mengerikan. Istri dan anak-anak kang Jumali saling ketakutan, begitupun papa. Papa siaga dan waspada melindungi mereka dari posisi belakang cikar dengan sebatang kayu penyangga roda cikar.

Sedikit demi sedikit cikar bisa melewati sang harimau. Rombongan kami dengan perlahan bisa memasuki mulut jembatan. Tiba-tiba sang harimau meloncat kearah kami, sontak papa melakukan perlawanan. Dengan tubuh yang masih lemah, berbagai upaya papa lakukan untuk mengusir hewan ini hingga. Upaya itu akhirnya menjatuh papa bersama sang harimau dari cikar dan terjun kesungai.

Itulah saat terakhir papa dan kang Jumali. Papa hanyut terbawa arus sungai yang terus membawa papa mengikuti panjangnya sungai. Dimalam yang sangat dingin itu, papa berjuang terus menyelamatkan jiwa dan nyawa dari terjangan air sungai. Ketakutan membuat papa kuat untuk terus berlari menyelamatkan diri saat berhasil menepi dari badan sungai.

Berjalan tanpa arah dan entah kemana kaki melangkah. Hingga papa menemukan sebuah Desa yang terletak jauh dari lereng Merapi.. Di desa inilah papa ditolong warga dan dapat bertahan hidup. Dirumah seorang Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan UPT Pendidikan, papa sementara tinggal untuk pemulihan. Dari jasa beliaulah, papa dipindahtugaskan dari tempat yang lama setelah beliau mendengar cerita perjalanan papa yang berat disana. Dan dirumah beliaulah papa membaca berita di koran lokal tentang wabah aneh dilereng Merapi. Berita itu papa gunting, dan papa simpan di kardus yang kau lihat dikamar papa itu.

Kesempatan pindah itu papa terima tanpa pertimbangan lagi. Trauma kejadian akan kehidupan sebelumnya membuat papa segera memutuskan menerima tawaran pindah ke Jawa Timur hingga sekarang ini.

Inilah kisah hidup papamu didusun sini. Bukan papa yang harus kau resapi dalam kisah itu, tapi papa ingin kau meresapi perjuangan dan tekad tangguh seorang perempuan yang kuat dan teguh menghadapi tugasnya. Dia adalah Laode Ida atau mbak Lala. Dia perempuan yang terus mengobarkan semangatnya untuk warga sekitarnya meski dengan cacian, peluh dan air mata. mereka tidak pernah menerima kebenarannya.” Tutupku.

Kang Jumali meremas pundakku. “alhamdulillah kita diberi keselamatan dan umur panjang dik Towo. Aku ihlas kehilangan Lailah. memang sudah lama dia menderita sakit. Tapi selama dia tinggal bersamaku, dia begitu kuat menyembunyikan keadaan kesehatannya. Tidak pernah mengeluh atau menyerah. Malah hari-harinya tak lepas dari tugasnya mengabdi untuk warga disini. Tanpa pernah menunjukkan kalau sebenarnya dia telah rapuh oleh kanker itu. Bahkan dengan telaten dia merawat bayi-bayi, memberi penyuluhan dan terkadang ikut bersama-sama warga dalam kegiatan didusun sini. Seolah-olah dia tidak sakit dik. Peranannya sangat diterima oleh warga sini. Kamu bisa lihat bagaimana perubahan dusun ini dibanding dua puluh tahun silam kan?.” Tegas kang Jumali

Di putarnya badanku menghadapnya. “Kami semua sekarang hidup sehat dan tenang. Bahkan kehamilan dan kelahiran disini sangat bermutu karena peranan Lailah. Dia sadarkan warga dengan ilmu-ilmu kebidanannya. Warga sudah menganggap dia sebagai berliannya dusun sini. Kasih sayangnya membuat warga merasa memiliki intan berlian didusunnya. Dia dicintai disini dik, disayang dan dihormati atas segala jasa-jasanya mengembalikan dusun ini seperti sekarang ini.” terang kang Jumali.

Aku melangkah keluar ruangan. Tak kuasa menahan perih dan sedihnya batin ini mendengar cerita kang Jumali. Kutatap malam yang kosong. Pikiranku hampa melayang tergulung kabut malam. Kang Jumali menghampiriku diteras luar.

“Lailah menepati janjinya dik Wo, dia tetap kembali ke dusun sini meski malam itu terusir oleh warga.” Bisiknya. Aku menoleh dan menatap kang Jumali.

“maafkan aku kang”. Kembali air mata ini menetes deras.

Dipeluk tubuhku oleh kang Jumali. Dengan tak kuasa lagi harus mengucap, aku sampaikan penyesalan mendalam atas keputusanku meninggalkan dusun Wonogriyo. “aku telah berjanji padanya untuk tetap berusaha yang terbaik bagi dusun ini kang. Tapi ternyata aku mengingkarinya” tangisku.

“ini mungkin sudah jalan Tuhan dik, pengabdianmu sudah yang terbaik bagi warga sini.“ kata kang Jumali.

“dimana kubur mbak Lala kang?, aku ingin kesana malam ini juga.” tanyaku pada kang Jumali.

segera kang Jumali memasuki rumah, dibawanya lampu senter baterei dan juga mengajak Herman yang sedari tadi duduk mendengarkan cerita kami.

“antarkan masmu kemakam bu Lailah” kata kang Jumali kepada Herman sambil menyerahkan lampu senternya.

“berangkatlah bersama Herman dik, makam Lailah berdampingan sama makam bapaknya Herman Kasun Samiran”. Lanjut kang Jumali.

Setelah menitipkan Tantri pada kang Jumali, malam itu juga aku berjalan dibelakang Herman menyusuri jalanan setapak disisi kiri rumah kang Jumali. Tidak begitu jauh kami pun sampai disebuah tempat disamping pekarangan bambu. Nampak tiga gundukan makam yang berjajar berdampingan. Satu makam masih basah penuh dengan bunga-bunga. Aku yakin inilah makam mbak Lala.

“ini makamnya ibu Lailah mas, sedangkan yang dua itu makam bapak dan ibu saya.” kata Herman memberitahuku.

“terima kasih Her. orang tuamu adalah orang tuaku juga. Merekalah yang membimbingku saat aku disini dulu.” Sambungku.

Aku segera bertekuk lutut disamping makam mbak Lala. Tak tahan air mata ini terus menetesi tanahnya yang masih basah.

“kamu kembali saja kerumah kang Jumali Her, biarkan mas disini sendirian.” Perintahku kepada Herman. Herman pun meninggalkan aku sendiri dalam gelap tanpa sinar apapun.

Kupegang nisan putih yang dipenuhi bunga melati. Kutumpahkan tangisku diatasnya. “maafkan aku mbak.. maafkan aku. Aku telah bersalah mbak. Aku telah ingkar. Tak seharusnya aku lari. Aku pengecut mbak. Aku pengecut”.

Semakin kutundukkan mukaku hingga menyentuh tanah makam yang wangi bertabur bunga.

“engkau tepati janjimu, dan engkau kembali kesini seperti teriakmu padaku malam itu. aku malu mbak.. aku malu.” Kudongakkan kepalaku, dan kutatap dua makam disebelahnya.

“maafkan aku pak Kasun. aku anakmu yang ingkar. Aku lari paakk”. Tangisku pecah di depan makam mereka. Pilu dan teriris rasanya hati ini. Dosa ini begitu besar aku rasakan. Aku pernah berjanji kepada mereka untuk tidak akan meninggalkan dusun ini. Mengabdi demi kemajuan dusun yang masih sangat primitif saat itu. Tapi hanya mereka inilah orang-orang yang tetap tegar dan kuat membangkitkan kehidupan dusun ini yang pernah hampir binasa oleh wabah. Aku hanya seonggok pecundang jalanan. Yang hina dan tak ada guna. Berlari seperti pencuri. Menangis seperti anak kecil yang mencari tetek ibunya. Apa aku ini?. Oh Tuhan, tempatkanlah mereka ini semua di Surgamu. Ampunilah segala salah dan dosanya. Mereka orang-orang yang baik. Mereka orang-orang yang pantas di sisi-Mu.

Hening malam lereng Merapi membawaku terlelap disamping makam. Tergugah aku ketika terik mentari pagi menyapa tubuh. Putriku Tantri telah berada disampingku bersama kang Jumali dan Herman.

“papa baik-baik saja kan?” tanya Tantri sambil memegang pundakku yang lusuh.

Aku pandu putriku berdiri.

“papa baik-baik saja sayang” jawabku. Kulihat wajah sumringah dari Kang Jumali dan Herman yang terus menatapku. Mendekat kang Jumali ke makam mbak Lala.

“Lailah telah tenang dialam sana dik Towo. Ihlaskan mbakmu disini. Aku dan Herman yang akan merawatnya.” Kata kang Jumali.

“terima kasih kang, masa-masaku bersama mereka juga akan aku sertakan terpendam disini. Mereka dan dusun ini telah mengisi masa mudaku meski akhirnya hanya mereka yang pantas terkubur disini.” Jawabku. Kupeluk tubuh kang Jumali yang telah renta.

“ini adalah cita-cita mbak Lala kang, ingin mengabdi disini hingga akhir hayatnya. Karena menurutnya tanah inilah harapan dia setelah masa pahitnya di Sulawesi. Dan dia berhasil menjadikan dusun ini sungguh luar biasa. Aku sangat ihlas dan bangga padanya”.

Dengan melepas pelukanku. Kang Jumali mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum mengusap wajahku penuh makna sayang.

“kebanggaanmu sekarang ada pada putrimu dik Towo. Dia gadis yang baik. Dia akan memberimu makna hidup yang lebih baik dari tempat ini. Bimbinglah dia dan berikan hikmah semua ini sebagai motivasi hidupnya”. Pesan kang Jumali.

Kami saling berpelukan lagi pagi itu didepan makam pahlawan dusun Wonogriyo.

-Selesai-
ditulis oleh: Widy
dalam rangka lomba karya tulis cerpen Nasional LMCP reguler kemendiknas

3 responses to this post.

  1. Aku wegah kate moco bos … kakean …

    Balas

  2. Posted by suliyant.... on 2 Januari 2013 at 08:23

    mantap meng inspirasssiiiiii

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: